IRAN dan AS kembali saling serang. Israel adalah master mind di balik kisruh itu. Apa sebenarnya yang sedang ditarget Israel terhadap Iran?
Gencatan senjata Iran dan AS-Israel tak lebih dari sekitar satu bulan. Boleh jadi, kedua belah pihak memang membutuhkan suasana damai meskipun hanya sesaat.
Dari pihak AS, gencatan senjata sejenak itu dimaksudkan untuk konsolidasi kekuatan setelah kalah telak oleh Iran. Setelah dirasa mulai pulih, serangan ke Iran kembali dilancarkan.
Dari pihak Iran, gencatan senjata memberikan dua maslahat: pertama, untuk memberikan suasana damai bagi jamaah haji selama sebulan. Kedua, untuk mendapatkan suasana damai di saat pemakaman Ali Khamanei.
Israel Sang Master Mind
Secara kasat mata, upaya gencatan senjata yang tampak datang dari pihak AS, digagalkan oleh tindakan licik pihak Israel.
Hal ini terlihat sejak gencatan senjata pertama di April lalu. Hanya sekitar satu jam gencatan senjata diumumkan, Israel langsung membombardir Lebanon dengan brutal. Padahal, keamanan Lebanon menjadi bagian syarat gencatan senjata.
Kedua, begitu banyak serangan misterius yang dituduhkan dari dan ke Iran selama gencatan senjata yang sepertinya dilakukan oleh Israel. Tapi, AS sepertinya menikmati permainan Israel itu.
Pertanyaannya: apa yang diinginkan Israel dari perang antara AS dan Iran?
Jawaban sederhananya untuk melumpuhkan kekuatan militer Iran agar tidak menjadi ancaman Israel di Timteng.
Namun, orang lupa dengan dampak dari proses perang yang sudah memakan waktu sekitar 4 bulan itu. Yaitu, kekacauan suplai energi dunia.
Meskipun AS dan Iran masih belum mengakui siapa yang kalah, tapi dunia saat ini sudah nyaris terkapar karena dampak dari suplai energi yang kacau balau itu. Dan hal itu, bisa memunculkan kekacauan dunia yang lebih parah dari sekadar perang itu.
Serangan Saudi ke Sana’a Yaman
Ada peristiwa di luar perkiraan yang terjadi antara pihak Houthi di Yaman dengan pemerintah Saudi Arabia. Yaitu, serangan tiba-tiba Saudi yang menghancurkan bandara Sana’a yang dikuasai Houthi di Yaman.
Serangan yang berlangsung pada Senin itu kontan membatalkan kesepakatan damai antara Houthi dengan Saudi yang sudah berlangsung sejak Maret 2022, atau sebelum serangan brutal Israel ke Gaza 2023.
Tak butuh lama, Houthi pun membalas serangan Saudi itu dengan serangan ke Bandara Abha di sebelah barat daya Saudi. Bandara itu melayani rute domestic dan internasional, khususnya ke Mesir dan UEA.
Mesir dan UEA adalah akses khusus yang digunakan Israel. Kedua negara ini memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.
Pertanyaannya, kenapa Saudi menyerang Houthi dalam skala besar?
Lagi-lagi, banyak kalangan yang menduga kalau serangan ini didalangi oleh Israel. Melalui serangan ini, Houthi akan bersikap lebih keras lagi dengan Saudi dan pihak-pihak di Timteng.
Goal akhirnya: sepertinya Israel merancang agar Houthi menutup selat Babul Mandeb, sebuah titik pelayaran yang begitu vital menghubungkan antara Laut Merah dan Teluk Aden.
Hormuz Tutup, Mandeb Tutup
Satu titik penting di wilayah Hormuz tutup saja, 20 persen pasokan energi dunia akan kacau. Bayangkan jika selat Mandeb pun ditutup oleh Houthi.
Inilah sepertinya kekacauan dunia yang sedang didesain oleh Israel. Yaitu, terhentinya suplai energi.
Kekacauan ini bukan hanya berdampak serius pada negara-negara produsen di Timteng. Melainkan juga negara-negara konsumen di Asia, Eropa, termasuk Cina.
Israel sepertinya begitu tekun untuk memunculkan perang dunia ketiga. Jadi, Iran sepertinya hanya menjadi target antara. Yang sebenarnya adalah membuat kekacauan dunia yang massif.
Entah agenda jahat apa yang tengah disiapkan Israel dari kekacauan dunia yang tidak diinginkan semua orang itu. Mungkin inilah yang disebut dengan agenda ‘New World Order’. Tatanan Dunia Baru di mana Israel menjadi penguasa tunggal. [Mh]


