BERDAMAI lebih mulia daripada memenangkan pertengkaran, ditulis oleh Ruli Alqodri Mustafa. Di zaman media sosial, pertengkaran sering kali lebih cepat menyebar daripada kabar baik.
Satu kalimat yang kurang tepat dapat berubah menjadi perang komentar. Perbedaan pendapat yang seharusnya menjadi ruang bertukar pikiran justru menjelma menjadi permusuhan. Ironisnya, semakin banyak orang yang merasa menang dalam debat, semakin sedikit yang benar-benar memperoleh kedamaian.
Fenomena ini sesungguhnya bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah mengabarkan bahwa menjelang akhir zaman, perselisihan akan semakin banyak terjadi.
Perpecahan bukan hanya muncul karena perbedaan pendapat, tetapi juga karena hati yang dipenuhi ego, fanatisme, dan kecintaan yang berlebihan kepada urusan dunia.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengingatkan:
“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.” (QS. Al-Anfal: 46)
Ayat ini mengandung pelajaran yang sangat mendalam. Perselisihan yang tidak terkendali bukan sekadar merusak hubungan antarmanusia, tetapi juga melemahkan kekuatan umat. Energi yang seharusnya digunakan untuk berkarya, belajar, dan membangun peradaban justru habis untuk saling menyerang.
baca juga: Berdamai dengan Diri Sendiri
Berdamai Lebih Mulia daripada Memenangkan Pertengkaran
Mengapa perselisihan begitu mudah terjadi?
Para ulama menjelaskan bahwa salah satu penyebab utamanya adalah kebodohan terhadap agama. Ketika ilmu semakin sedikit sementara keberanian berbicara semakin besar, maka pendapat pribadi sering kali dianggap sebagai kebenaran mutlak. Akibatnya, perbedaan kecil berubah menjadi permusuhan yang berkepanjangan.
Faktor lain adalah fanatisme golongan. Mencintai guru, organisasi, atau kelompok adalah hal yang wajar. Namun ketika kecintaan itu membuat seseorang menolak kebenaran hanya karena datang dari pihak lain, maka fanatisme telah menutupi akal sehat.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga mengingatkan tentang penyakit wahn, yaitu cinta dunia dan takut mati. Orang yang terlalu mengejar kedudukan, popularitas, atau keuntungan duniawi sering kali rela mengorbankan persaudaraan. Bahkan tidak sedikit konflik yang sebenarnya berawal dari perebutan pengaruh, lalu dibungkus dengan dalih membela agama.
Lebih menyedihkan lagi adalah munculnya para provokator. Dalam Islam, mengadu domba (namimah) termasuk dosa besar karena mampu menghancurkan persaudaraan hanya dengan beberapa kalimat.
Di era digital, namimah tidak lagi dilakukan dari mulut ke mulut, tetapi melalui tombol “bagikan”, potongan video tanpa konteks, atau komentar yang sengaja memancing emosi. Satu unggahan dapat memecah ribuan hati.
Padahal, Islam justru mengajarkan kebalikannya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
(QS. Al-Hujurat: 10)
Ayat ini bukan sekadar ajakan, melainkan sebuah misi. Menjadi pendamai jauh lebih mulia daripada menjadi pemenang dalam pertengkaran. Orang yang mampu meredakan konflik sedang membangun jembatan, sementara provokator sedang membangun jurang.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bahkan menjelaskan bahwa mendamaikan manusia memiliki kedudukan yang sangat tinggi, melebihi banyak amalan sunnah yang bersifat pribadi. Sebab, islah bukan hanya memperbaiki hubungan antarmanusia, tetapi juga menjaga keutuhan umat.
Maka, ketika menyaksikan perselisihan, barangkali pertanyaan yang paling penting bukanlah, “Siapa yang paling benar?” melainkan, “Apa yang bisa saya lakukan agar keadaan menjadi lebih baik?”
Kadang-kadang, diam lebih bernilai daripada membalas. Memahami lebih mulia daripada menghakimi. Mengalah demi persaudaraan sering kali lebih besar pahalanya daripada memaksakan kemenangan.
Di penghujungnya, kita perlu menyadari bahwa peradaban besar tidak dibangun oleh orang-orang yang gemar bertengkar, melainkan oleh mereka yang mampu bekerja sama meskipun memiliki banyak perbedaan.
Perselisihan mungkin tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, tetapi permusuhan dapat dihentikan oleh hati yang ikhlas dan akhlak yang mulia.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan kita bukan bagian dari penyebar api perselisihan, tetapi menjadi penyejuk yang menghadirkan kedamaian, menguatkan ukhuwah, dan menebarkan rahmat bagi sesama. Karena pada akhirnya, orang yang paling mulia bukanlah yang paling keras suaranya, melainkan yang paling banyak menghadirkan kedamaian.[ind]
Referensi
1. Al-Qur’an: QS. Al-Anfal ayat 46 dan QS. Al-Hujurat ayat 10.
2. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim tentang keutamaan islah dan larangan memecah belah.
3. Penjelasan para ulama, di antaranya Ibnu Taimiyah dan Ibnu Hajar al-Asqalani mengenai bahaya fanatisme, namimah, dan pentingnya menjaga persatuan umat.





