MAKANAN dan minuman manis memang sulit dipisahkan dari keseharian anak-anak. Permen, cokelat, biskuit, minuman kemasan, hingga es krim sering menjadi camilan favorit yang sulit ditolak. Sesekali mengonsumsi makanan manis tentu tidak menjadi masalah. Namun, jika asupan gula berlebihan terjadi setiap hari, kondisi ini dapat memberikan dampak yang kurang baik terhadap tumbuh kembang anak.
Perlu dipahami bahwa tubuh memang membutuhkan gula sebagai sumber energi. Akan tetapi, kebutuhan tersebut sebenarnya sudah bisa dipenuhi dari makanan alami seperti buah, susu, dan karbohidrat. Masalah muncul ketika anak terlalu sering mengonsumsi gula tambahan yang terdapat pada makanan dan minuman olahan.
Baca Juga: Beragam Manfaat Jambu Jamaika untuk Ibu Hamil
Terlalu Banyak Gula pada Anak, Apa Dampaknya bagi Tumbuh Kembang?
Berikut beberapa dampak yang dapat terjadi jika anak mengonsumsi gula secara berlebihan.
1. Meningkatkan Risiko Obesitas
Salah satu dampak yang paling sering terjadi adalah kenaikan berat badan yang berlebihan. Makanan tinggi gula umumnya juga tinggi kalori, tetapi rendah serat dan zat gizi penting. Akibatnya, anak mudah merasa lapar kembali meskipun baru saja makan.
Jika kebiasaan ini berlangsung dalam waktu lama tanpa diimbangi aktivitas fisik yang cukup, risiko kelebihan berat badan hingga obesitas akan meningkat. Kondisi tersebut dapat menjadi pintu masuk berbagai penyakit di kemudian hari.
2. Memengaruhi Konsentrasi Saat Belajar
Makanan atau minuman manis memang dapat memberikan energi secara cepat. Namun, lonjakan gula darah yang terjadi biasanya hanya berlangsung sementara. Setelah itu, kadar gula dapat turun kembali dengan cepat sehingga anak menjadi mudah lelah, mengantuk, atau sulit berkonsentrasi.
Kondisi ini tentu dapat memengaruhi kemampuan anak dalam mengikuti pelajaran di sekolah maupun saat belajar di rumah.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
3. Meningkatkan Risiko Kerusakan Gigi
Gula merupakan salah satu penyebab utama gigi berlubang pada anak. Sisa gula yang menempel di permukaan gigi akan dimanfaatkan bakteri di dalam mulut untuk menghasilkan asam yang merusak lapisan email gigi.
Apabila anak jarang menyikat gigi setelah mengonsumsi makanan manis, risiko gigi berlubang akan semakin besar. Rasa sakit akibat kerusakan gigi bahkan dapat mengganggu nafsu makan dan kualitas tidur anak.
4. Mengurangi Asupan Makanan Bergizi
Anak yang terlalu sering mengonsumsi makanan manis biasanya lebih cepat merasa kenyang. Akibatnya, mereka menjadi kurang tertarik mengonsumsi makanan utama yang mengandung protein, sayuran, atau buah-buahan.
Padahal, masa pertumbuhan membutuhkan berbagai zat gizi seperti protein, zat besi, kalsium, vitamin, dan mineral. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, proses tumbuh kembang anak dapat terganggu.
5. Meningkatkan Risiko Penyakit di Masa Depan
Kebiasaan mengonsumsi gula berlebihan sejak kecil dapat membentuk pola makan yang kurang sehat hingga dewasa. Dalam jangka panjang, kondisi ini berhubungan dengan meningkatnya risiko diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, hingga gangguan metabolisme.
Karena itu, membiasakan anak mengonsumsi makanan dengan kadar gula yang wajar sejak dini merupakan investasi penting bagi kesehatannya di masa depan.
Mengurangi gula bukan berarti melarang anak menikmati makanan manis sama sekali. Orang tua dapat mulai dengan langkah sederhana, seperti membatasi minuman kemasan, mengganti camilan manis dengan buah segar, serta membiasakan anak minum air putih.
Saat membuat makanan di rumah, kurangi penggunaan gula secara bertahap agar lidah anak terbiasa dengan rasa alami makanan. Jangan lupa membaca label informasi gizi pada produk kemasan untuk mengetahui kandungan gula tambahan di dalamnya. [DW]





