SEJARAH Islam dipenuhi dengan kisah para sahabat Rasulullah yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Ada yang berasal dari Makkah, Madinah, Persia, Habasyah, hingga wilayah Yaman. Salah satu sahabat yang namanya mungkin tidak setenar Abu Bakar Ash-Shiddiq atau Umar bin Khattab adalah Fairuz Ad-Dailamy. Meski demikian, jasanya bagi umat Islam sangat besar, terutama dalam menjaga kemurnian dakwah Islam pada masa-masa akhir kehidupan Rasulullah.
Fairuz Ad-Dailamy berasal dari kaum Persia yang menetap di Yaman. Ia termasuk kelompok orang-orang Persia yang tinggal di wilayah tersebut setelah kekuasaan Persia menguasai sebagian kawasan Arab Selatan. Meskipun berasal dari keturunan non-Arab, Fairuz dikenal sebagai pribadi yang cerdas, berani, dan memiliki pengaruh di tengah masyarakat.
Baca Juga: Mengenal Uqbah bin Amir Al-Juhani, Ahli Al-Qur’an yang Menjadi Pemimpin Mesir
Fairuz Ad-Dailamy, Sahabat Rasul yang Mengakhiri Fitnah Nabi Palsu di Yaman
Ketika Islam mulai menyebar ke berbagai wilayah Jazirah Arab, dakwah Rasulullah juga sampai ke Yaman. Fairuz termasuk orang yang menerima ajaran Islam dengan penuh keyakinan. Keimanannya membuat ia bergabung dengan kaum Muslimin dan siap membela agama yang baru dipeluknya.
Salah satu peristiwa penting yang mengangkat nama Fairuz Ad-Dailamy adalah keterlibatannya dalam menghadapi Aswad Al-Ansi, seorang pria dari Yaman yang mengaku sebagai nabi. Aswad Al-Ansi memanfaatkan situasi politik yang sedang tidak stabil untuk mengumpulkan pengikut. Dengan berbagai tipu daya dan pengaruh yang dimilikinya, ia berhasil menguasai sebagian wilayah Yaman.
Keberadaan nabi palsu tersebut menjadi ancaman besar bagi kaum Muslimin. Selain mengaku menerima wahyu, Aswad Al-Ansi juga berusaha menggulingkan pemerintahan Islam di Yaman. Banyak orang yang akhirnya tertipu oleh pengakuannya.
Rasulullah kemudian mengirimkan arahan kepada kaum Muslimin di Yaman agar menghentikan fitnah tersebut. Fairuz Ad-Dailamy bersama beberapa tokoh Muslim lainnya menyusun strategi dengan sangat hati-hati. Mereka tidak bertindak tergesa-gesa karena menyadari bahwa Aswad memiliki banyak pengawal dan pendukung.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Dengan pertolongan Allah, Fairuz dan rekan-rekannya berhasil menyusup ke lingkungan tempat tinggal Aswad Al-Ansi. Dalam sebuah operasi yang direncanakan secara matang, mereka akhirnya berhasil mengakhiri pemberontakan tersebut dengan menewaskan sang nabi palsu. Berita kemenangan itu kemudian sampai kepada Rasulullah sebelum beliau wafat.
Keberhasilan tersebut menjadi salah satu momen penting dalam sejarah Islam. Jika fitnah nabi palsu itu dibiarkan berkembang, bukan tidak mungkin akan semakin banyak masyarakat yang tersesat. Peran Fairuz Ad-Dailamy menunjukkan bahwa menjaga akidah umat merupakan tanggung jawab besar yang membutuhkan keberanian sekaligus kebijaksanaan.
Setelah Rasulullah wafat, Fairuz tetap istiqamah dalam keislamannya. Ia terus berkontribusi dalam menjaga stabilitas wilayah Yaman dan mendukung pemerintahan kaum Muslimin pada masa Khulafaur Rasyidin. Kesetiaannya kepada Islam tidak berubah meskipun berbagai ujian datang silih berganti.
Dari kisah Fairuz Ad-Dailamy, ada beberapa pelajaran yang dapat dipetik. Pertama, Islam tidak membedakan seseorang berdasarkan suku atau bangsa. Fairuz yang berasal dari keturunan Persia tetap memperoleh kedudukan mulia karena keimanan dan amal salehnya.
Kedua, menjaga kemurnian ajaran agama merupakan tanggung jawab bersama. Fitnah sering kali muncul dengan berbagai bentuk, termasuk melalui orang-orang yang mengatasnamakan agama demi kepentingan pribadi. Seorang Muslim dituntut untuk selalu berpegang teguh pada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah agar tidak mudah terpengaruh oleh ajaran yang menyimpang.
Ketiga, keberanian harus disertai niat yang ikhlas. Fairuz tidak bertindak demi popularitas ataupun kekuasaan, melainkan demi menjaga agama Allah. Itulah sebabnya namanya dikenang sebagai salah satu sahabat yang memiliki jasa besar meski tidak banyak dibicarakan. [DW]
Sumber: 65 Kisah Teladan Sahabat Nabi. Dr. Abdurrahman Raf’at al-Basya. Kaunee: 2008.




