JALAN para dai dan aktivis itu tidak mudah. Terjal dan penuh tantangan. Tapi, jangan pernah pilih untuk duduk-duduk saja.
Teladan mulia untuk para dai dan aktivis itu adalah Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau orang yang paling dicintai Allah, doanya mustajab, selalu ada Jibril yang mendampinginya.
Namun begitu, Rasulullah merupakan dai dan aktivis yang paling gigih berjuang. Jenis-jenis perjuangannya begitu lengkap. Semua pernah beliau lakukan.
Ketika dakwah sembunyi-sembunyi tak lagi dilakukan, serangan terhadap Islam begitu gencar. Sebagian sahabat Nabi bahkan dihijrahkan ke negeri lain agar aman. Mereka dihijrahkan ke Habasyah nan jauh di sana.
Jarak Mekah ke Habasyah sekitar 1.500 kilometer. Bukan sekadar jauh, harus ada nyeberang laut pula. Selain itu, sulit rasanya Habasyah sebagai tempat tinggal untuk umat Islam. Karena di sana ada komunitas Nasrani dalam sistem pemerintahan kerajaan.
Nabi sendiri juga mencari lahan dakwah baru di sekitaran Mekah. Diharapkan lahan ini akan menjadi tempat yang aman untuk ditinggali. Pilihan tempat itu adalah Thaif. Letaknya di timur Mekah.
Jarak Mekah ke Thaif sekitar 90-an kilometer. Jarak itu seperti antara Jakarta dan Sukabumi.
Tapi, alih-alih mendapatkan dukungan dan tempat yang nyaman untuk umat Islam, justru di lokasi itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diusir dan dilempari batu.
Saat itulah Nabi mencurahkan segala kesedihan dan beratnya tugas dakwah kepada Allah subhanahu wata’ala. Mau kemana lagi mereka akan tinggal dan menetap dengan aman?
Allah subhanahu wata’ala menjawab doa Nabi. Sejumlah orang Madinah yang berziarah ke tanah suci Mekah tertarik dengan ajaran Islam. Singkat kata, mereka pun siap menyambut kedatangan umat Islam di Madinah.
Namun pilihan ini bukan tanpa risiko. Dari Madinahlah, umat Islam mengalami ‘dunia baru’ yang belum pernah merka alami sebelumnya. Yaitu, adanya tantangan hidup bersama kaum munafik dan Yahudi.
Belum lagi tantangan itu bisa diselesaikan dengan tuntas, Madinah terus-menerus digempur oleh banyak musuh dari luar. Terutama dari pihak Quraisy Mekah.
Terakhir, ketika semua tantangan itu hampir berhasil dilalui Nabi dan umat Islam, ada tantangan baru yang tidak kalah berat. Yaitu, serangan dari pasukan Romawi Bizantium di utara Madinah, salah satu negara super power selain Persia saat itu.
**
Jangan bayangkan menjadi dai dan aktivis Islam itu nyantai, banyak ‘proyek’, banyak pujian, dan rezeki yang terus mengalir.
Inilah dunia di mana tempat kita untuk menabung. Bukan untuk panen. Karena panennya kelak di akhirat.
Jangan pernah kendur dalam berjuang. Ambil semua risiko di semua pilihan. Hingga, Allah memberikan kita dua kenikmatan: kemenangan atau akhir yang baik dalam husnul khatimah. [Mh]



