HIDUP yang bahagia adalah kehidupan yang penuh makna. Bisa diartikan juga sebagai hidup yang tidak hampa dan tidak sia-sia.
Banyak memberi manfaat bagi manusia lain, bermanfaat bagi lingkungan, bermanfaat –terlebih bagi orang-orang yang memerlukan pertolongan.
Maka wajar saja jika suatu ketika kita bersedih. Kita terluka. Kita berduka. Kita kecewa. Kita marah. Itu wajar dan manusiawi dan sama sekali tidak bertentangan dengan makna kebahagiaan.
Bahagia itu justru ketika kita mengetahui emosi yang berkembang dalam jiwa. Misalnya, suatu ketika merasa marah.
Baca Juga: Apa yang Menjadi Takdirmu Akan Hadir Kepadamu
Mengapa Harus Biasa Saja dalam Menyikapi Kebahagiaan?
Coba pahami, mengapa marah, sebab apa dan untuk apa marah? Kemudian pikirkan, apakah harus mengekspresikan kemarahan, atau –bagaimana ekspresi marah yang konstruktif? Apa dampaknya, apa risikonya, apa hasilnya?
Mengetahui semua hal itu adalah cara agar mendapatkan kualitas kehidupan yang baik dan bermakna. Tidak larut dalam kemarahan.
Tidak hilang kendali saat marah. Bahkan bisa mengambil pelajaran terbaik dari sebab yang membuat marah. Seperti inilah jalan kebahagiaan.
Bahagia bukan karena tidak pernah marah. Bahagia bukan karena tidak pernah berduka. Bahagia bukan karena tidak pernah terluka.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Bahagia bukan karena tidak pernah kecewa. Tetapi karena bisa bersikap secara tepat terhadap setiap emosi yang sedang berkembang dalam diri, selanjutnya bisa mendapatkan motivasi untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.
Perasaan bahagian ini bisa disebarkan untuk orang lain yang ada di sekitar kita. Sejatinya, bahagia bukan selalu berpatokan ketika mendapat hal-hal besar yang kita inginkan, tapi bahagia bisa diciptakan ketika mendapat hal-hal kecil dan sederhana.
Misal contohnya ketika kamu pergi, di jalanan yang kamu lalui dengan motor atau mobilmu tidak ada kendala sedikitpun atau tidak macet, di situlah kamu patut berbahagia dan bersyukur.
Mark Manson (2026) memberikan ulasan yang menarik dalam tema ini. “If your emotions don’t know what is going on, they cannot bring the tools required to fix the situation. Jika emosi Anda tidak mengetahui apa yang sedang terjadi, emosi tersebut tidak dapat memberikan alat yang dibutuhkan untuk memperbaiki situasi” (Mark Manson, 2026). [DW]
Sumber: Ustadz Cahyadi Takariawan dalam tulisannya “Biasa Saja, Bahagia Jangan Dilebih-lebihkan”





