Dalam Islam, lisan bukan sekadar alat bicara. Ia juga merupakan cerminan hati, penjaga kehormatan, sekaligus penentu hangat atau dinginnya sebuah rumah. Banyak keluarga tampak utuh secara fisik, tetapi perlahan kehilangan ketenangan karena anggotanya tidak lagi saling menjaga ucapan.
Baca Juga: Mencari Teman Karib
Lisan Bukan Hanya Sekadar Alat Bicara, tetapi Cerminan Hati
Suami berbicara dengan keras kepada istri, istri menjawab dengan sinis, orang tua membentak anak, sementara anak tumbuh dengan hati yang penuh jarak. Kata-kata yang seharusnya menjadi penguat berubah menjadi sumber luka. Karena itulah Islam memberi perhatian besar terhadap adab berbicara, terutama kepada orang-orang terdekat.
Lisan yang Lembut Menghidupkan Cinta
Rasulullah adalah teladan terbaik dalam menjaga ucapan kepada keluarganya. Beliau dikenal lembut, penuh penghargaan, dan tidak merendahkan istrinya. Bahkan ketika bercanda, beliau tetap menjaga perasaan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
- “Terima kasih.”
- “Kamu sudah berusaha.”
- “Semoga Allah membalas kebaikanmu.”
- “Aku mengerti kamu lelah.”
Apa yang didengar anak setiap hari akan membentuk cara ia memandang dirinya sendiri. Anak yang tumbuh dengan bentakan akan mudah merasa takut. Anak yang sering direndahkan akan tumbuh dengan keraguan. Sebaliknya, anak yang dibesarkan dengan kata-kata baik akan memiliki hati yang lebih tenang dan percaya diri. [DW]
Sumber: Telegram Majelis_MANIS (Pemateri: Ustadzah Dr. Eko Yuliarti Siroj)





