ANGKA ‘17.845’ bisa dibilang sangat akrab di rakyat Indonesia. Artinya, 17 Agustus tahun 1945, tanggal HUT RI. Tapi, bagaimana jika angka itu tentang nilai dolar AS terhadap rupiah.
Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, menilai bahwa angka 17.800 sudah tidak masuk akal untuk nilai rupiah terhadap dolar AS.
Hal ini menurutnya, seperti yang diberitakan sejumlah media, tidak menunjukkan keadaan fundamental ekonomi Indonesia yang kuat. Karena itu ia yakin, rupiah akan kembali naik lagi.
Hal itu ia sampaikan saat mengunjungi Masjid Salahuddin, Kantor Dirjen Pajak, pada Rabu lalu.
“Ya, saya stress,” kelekarnya kepada awak media.
Penurunan Terendah di Masa Reformasi
Bisa dibilang, penurunan rupiah saat ini merupakan yang terendah di era reformasi. Penurunan ini terus berlangsung, bahkan melewati angka 17.845, sebuah angka yang begitu sakral berkenaan dengan tanggal HUT RI.
Saat ini, Jumat (29/5), angka rupiah berkisar di antara 17.815 hingga hampir 17.900 per 1 dolarnya. Angka itu naik turun.
Pukulan Telak untuk Sektor Usaha
Jika fundamental ekonomi RI dianggap kuat, tidak begitu dengan daya tahan sektor usaha. Hal ini karena umumnya bahan baku masih banyak diimpor, dan biayanya dengan dolar. Sementara, penjualannya dengan rupiah.
Kalau harga jual produk dinaikkan mengikuti nilai dolar, bisa berdampak penurunan penjualan. Tapi jika tidak dinaikkan, keuntungannya akan terus tergerus. Bahkan, mungkin bisa rugi.
Pengaruhnya juga akan kuat terhadap tenaga kerja. Para pengusaha akan melakukan pemotongan biaya. Dan biaya yang paling rentan dipangkas adalah gaji pegawai atau PHK.
Semoga fundamental ekonomi RI memang benar-benar kuat seperti yang disampaikan Purbaya. Kalau tidak, angka ’17.845’ bisa menjadi ‘angka horor’ untuk ekonomi dan politik Indonesia. [Mh]




