DALAM sejarah Islam, terdapat banyak tokoh yang menemukan hidayah setelah melalui perjalanan panjang pencarian kebenaran.
Salah satu di antaranya adalah Zaid Al-Khair, seorang pemimpin terpandang dari kabilah Thayyi’ yang dikenal karena keberanian, kedermawanan, dan pengaruh besarnya di tengah masyarakat Arab.
Sebelum memeluk Islam, namanya telah masyhur di berbagai penjuru Jazirah Arab sebagai sosok yang disegani.
Namun, kemuliaan yang dimilikinya belum membuatnya merasa cukup hingga akhirnya ia bertemu dengan Rasulullah SAW dan mengenal ajaran Islam secara langsung.
Manusia bagai barang tambang; Mereka yang terbaik pada masa Jahiliyah adalah mereka yang tebrbaik pada masa Islam.
Ia memiliki hampir semua hal yang diidamkan masyarakat Arab pada masanya: keturunan terpandang, keberanian di medan perang, kemampuan memimpin, serta kemurahan hati yang membuatnya dihormati kawan maupun lawan.
Karena berbagai kelebihan tersebut, ia awalnya dikenal dengan nama Zaid Al-Khail, yang secara harfiah dapat diartikan sebagai “Zaid Sang Penunggang Kuda” atau “Zaid yang memiliki banyak kuda”, sebuah simbol kemuliaan dan kekayaan pada masa itu.
Baca Juga: Ummul Munzir binti Qais, Shahabiyah yang Menjadi Tuan Rumah Rasulullah
Kisah Inspiratif Zaid Al-Khair, Pemimpin yang Menyerahkan Hatinya kepada Islam
Ketika kabar tentang dakwah Rasulullah SAW mulai menyebar ke berbagai wilayah Arab, Zaid termasuk orang yang penasaran dengan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Berbeda dengan sebagian tokoh Arab yang langsung menolak karena khawatir kehilangan pengaruh, Zaid memilih mencari tahu terlebih dahulu.
Bersama beberapa anggota kaumnya, ia melakukan perjalanan menuju Madinah untuk bertemu langsung dengan Rasulullah.
Saat mereka masuk, Rasulullah sedang berkhutbah di hadapan kaum muslimin di atas mimbar. Pembicaraan Rasul saat itu memukau mereka, dan mereka merasa takjub dengan sikap kaum muslimin yang begitu patuh dengan Beliau. Mereka ingin mendengarkan dan menyerap apa yang Beliau sabdakan.
Sumber: 65 Kisah Teladan Sahabat Nabi. Dr. Abdurrahman Raf’at al-Basya. Kaunee: 2008.





