OBESITAS bukan sekadar berat badan berlebih, melainkan penyakit kronis yang dipengaruhi banyak faktor.
Banyak orang masih menganggap obesitas hanya berkaitan dengan penampilan atau risiko penyakit jantung dan diabetes.
Padahal, penumpukan lemak berlebih di tubuh juga dapat menjadi bahan bakar bagi munculnya berbagai jenis kanker, termasuk kanker gastrointestinal atau kanker saluran cerna.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), obesitas terjadi akibat interaksi kompleks antara faktor genetik, neurobiologi, pola makan, akses terhadap makanan sehat, hingga pengaruh lingkungan dan gaya hidup modern yang minim aktivitas fisik.
Data menunjukkan bahwa terdapat 13 jenis kanker yang berhubungan erat dengan obesitas, dan lebih dari 90% pasien kanker berusia 50 tahun atau lebih mengalami obesitas.
Nilai BMI yang tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko kematian akibat kanker kolon, hati, dan leukemia pada pria, serta kanker kolon, payudara, dan rahim pada wanita.
Tak hanya itu, overweight maupun obesitas juga diketahui dapat meningkatkan risiko kanker usus hingga hampir 60 persen.
Kondisi ini menjadi perhatian karena kanker saluran cerna, seperti kanker usus besar dan kanker hati, termasuk jenis kanker yang kasusnya terus meningkat di berbagai negara.
Jaringan lemak dalam tubuh ternyata bukan sekadar tempat menyimpan energi. Lemak juga aktif menghasilkan berbagai zat yang dapat memengaruhi proses biologis tubuh, termasuk memicu pertumbuhan sel kanker.
Baca juga: Balita Obesitas Berpotensi Mengalami Keterlambatan Mental
Obesitas Bisa Pengaruhi Penyakit Kronis Lainnya
Salah satu mekanisme utamanya adalah peradangan kronis. Pada orang dengan obesitas, jaringan lemak menghasilkan zat proinflamasi seperti sitokin dan TNF-α.
Peradangan yang berlangsung terus-menerus dalam jangka panjang dapat merusak DNA dan memicu terbentuknya sel abnormal yang berpotensi berkembang menjadi kanker.
Selain itu, obesitas sering memicu resistensi insulin, yaitu kondisi ketika tubuh tidak lagi merespons hormon insulin secara optimal.
Akibatnya, kadar insulin dalam darah meningkat. Kondisi hiperinsulinemia ini dapat merangsang pertumbuhan sel kanker melalui peningkatan hormon IGF-1 atau Insulin-like Growth Factor-1.
Kelebihan lemak tubuh juga menyebabkan ketidakseimbangan hormon. Pada obesitas, produksi hormon estrogen meningkat karena jaringan lemak ikut memproduksi hormon tersebut.
Kadar estrogen yang terlalu tinggi diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko kanker payudara dan kanker endometrium.
Di sisi lain, jaringan lemak menghasilkan zat yang disebut adipokin. Pada obesitas, kadar leptin meningkat dan dapat mendorong pertumbuhan tumor.
Sebaliknya, adiponektin atau zat yang sebenarnya memiliki efek protektif terhadap inflamasi dan kanker justru menurun.
Risiko semakin besar karena obesitas juga meningkatkan stres oksidatif akibat produksi radikal bebas berlebih. Kondisi ini dapat merusak sel sehat dan memicu mutasi DNA.
Tidak hanya itu, kelebihan lemak tubuh turut mengganggu sistem imun sehingga kemampuan tubuh mengenali dan menghancurkan sel kanker menjadi menurun.
Menariknya, penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa obesitas dapat mengubah komposisi bakteri baik di usus atau mikrobiota usus.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Perubahan ini memengaruhi metabolisme dan inflamasi tubuh, serta diduga berperan dalam meningkatnya risiko kanker saluran cerna.
Obesitas dan kanker memiliki hubungan yang kompleks, sehingga pencegahan obesitas melalui pola makan sehat, aktivitas fisik, dan gaya hidup seimbang menjadi bagian penting dalam upaya menurunkan risiko kanker.
Pentingnya perubahan gaya hidup untuk mempertahankan berat badan ideal dan mencegah obesitas. Setiap penurunan berat badan sebesar 10 persen dapat menurunkan risiko kanker yang terkait dengan obesitas.
Semakin besar penurunan berat badan, semakin rendah pula risiko kanker. Penurunan obesitas dapat dilakukan melalui perubahan gaya hidup, seperti membatasi asupan kalori, meningkatkan konsumsi makanan bergizi, mengurangi lemak tubuh, serta meningkatkan massa otot.
Obesitas juga dapat ditangani dengan pendekatan farmakologis, misalnya pemberian agonis reseptor GLP-1 (seperti semaglutide), serta tindakan bedah bariatrik pada kasus obesitas berat.
Pola makan seimbang, rutin beraktivitas fisik, tidur cukup, dan membatasi konsumsi makanan ultra-proses juga menjadi langkah penting untuk menurunkan risiko obesitas sekaligus berbagai penyakit kronis, termasuk kanker. [Din]





