KISAH Salman Al-Farisi termasuk yang kisah sahabat Rasulullah paling mengagumkan. Berbeda dengan banyak sahabat yang lahir dan tumbuh di Jazirah Arab, Salman berasal dari Persia (Iran saat ini). Perjalanan hidupnya dipenuhi pencarian, pengorbanan, dan ujian yang panjang hingga akhirnya menemukan Islam. Kisahnya menjadi bukti bahwa hidayah Allah dapat menghampiri siapa saja yang sungguh-sungguh mencari kebenaran.
Menurut riwayat yang disebutkan dalam Hilyatul Auliya dan Siyar A’lam An-Nubala, nama asli Salman sebelum masuk Islam adalah Rozbeh. Ia lahir di sebuah desa bernama Jayy, dekat Isfahan, Persia.
Ayahnya merupakan seorang tokoh terpandang dan penganut agama Majusi (Zoroaster), agama yang sangat dihormati di Persia saat itu.
Bahkan, Salman dipercaya menjaga api suci yang menjadi simbol ibadah kaum Majusi. Karena sangat menyayanginya, sang ayah sering membatasi pergaulan Salman agar tidak terpengaruh oleh keyakinan lain.
Baca Juga: Kisah Tabiin Terbaik Uwais al Qarni
Salman Al-Farisi, Pencari Kebenaran yang Menemukan Cahaya Islam
Salman berkata, “Aku adalah pemuda dari Persia penduduk Isfahan, dari sebuah kampung Arab yang dikenal Jayyan. Ayahku adalah kepala kampung dan merupakan orang yang paling kaya dan terhormat di sana. Aku adalah manusia yang paling ia cintai sejak aku lahir. Kecintaannya semakin bertambah hari demi hari sehingga ia mengurungku di dalam rumah karena khawatir terhadapku.”
Namun Allah telah menyiapkan jalan berbeda bagi pemuda ini.
Suatu hari, ketika melakukan perjalanan atas perintah ayahnya, Salman melewati sebuah gereja. Ia mendengar lantunan ibadah yang membuatnya tertarik. Salman masuk dan memperhatikan cara mereka beribadah.
Ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Hatinya tersentuh oleh ajaran yang dia dengar. Sejak saat itu, ia mulai mempertanyakan keyakinan yang selama ini dianut keluarganya.
Ketika pulang, Salman mengatakan kepada ayahnya bahwa ia tertarik pada agama Nasrani. Mendengar hal itu, ayahnya marah besar. Bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Salman sempat dikurung agar tidak meninggalkan agama leluhurnya.
Namun keinginan mencari kebenaran lebih kuat daripada ketakutan terhadap hukuman.
Salman akhirnya berhasil melarikan diri dan bergabung dengan rombongan menuju wilayah Syam (Suriah). Di sana ia belajar kepada seorang pendeta Nasrani yang dianggap saleh.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Setelah pendeta tersebut wafat, Salman berpindah dari satu guru ke guru lainnya. Ia menghabiskan bertahun-tahun untuk mempelajari agama dan mencari sosok yang benar-benar dapat membimbingnya kepada kebenaran.
Setiap kali gurunya meninggal dunia, ia selalu bertanya kepada siapa ia harus belajar berikutnya. Perjalanan ini membawanya berpindah dari Syam ke Mosul, lalu ke Nashibin, dan kemudian ke Ammuriyah.
Setelah masuk Islam, Rasulullah membantu memerdekakan Salman dari perbudakan. Ia kemudian menjadi sahabat yang sangat dekat dengan Nabi.
Dalam Perang Khandaq, Salman mengusulkan strategi menggali parit untuk melindungi Madinah. Strategi yang berasal dari pengalamannya di Persia itu berhasil menggagalkan serangan musuh.
Karena ketakwaan dan kedekatannya dengan Rasulullah , beliau pernah bersabda, “Salman adalah bagian dari keluarga kami, Ahlul Bait.” [DW]





