Nilai rupiah terus anjlok terhadap dolar Amerika. Hari ini saja, nilai 1 dolar AS sudah lebih dari 17.500 rupiah.
Nilai dolar AS terus melonjak terhadap rupiah. Hingga hari Jumat (15/4), nilainya sudah mencapai 17.600 rupiah.
Kenaikan dolar AS itu memang juga terjadi di negara-negara sekawasan, seperti terhadap dolar Singapura, ringgit Malaysia, Baht Thailand, dan lainnya. Namun, yang terjadi terhadap rupiah begitu stabil: terus mengalami kenaikan.
Apa artinya?
Jumlah Utang Naik dengan Kurs Dolar
Tanpa menambah utang apa pun, nilai utang Indonesia akan terus mengalami kenaikan seiring dengan naiknya nilai dolar AS terhadap rupiah.
Hal ini karena utang luar negeri dalam bentuk mata uang dolar AS, sementara pemasukan seperti pajak dalam bentuk rupiah.
Jadi, jika nilai dolar AS terus naik, maka jumlah utang Indonesia akan terus naik sesuai dengan prosentase kenaikannya. Begitu pun sebaliknya jika turun.
Harga Barang Impor akan Melonjak
Nilai impor Indonesia tergolong besar. Sepanjang tahun 2025 lalu, nilainya mencapai 241 miliar dolar AS lebih. Dan repotnya, dari tahun ke tahun, nilai impor terus naik.
Barang-barang impor itu antara lain, BBM, gas LPG, mesin dan elektronik, bahkan produk pangan seperti gula, kedelai, dan gandum.
Jika barang-barang tersebut dijual secara subsidi oleh pemerintah, maka besaran subsidi tersebut akan terus melonjak seiring dengan kenaikan dolar. Dan subsidi itu dibiayai oleh anggaran negara.
Selain itu, produk-produk impor yang tidak disubsidi pemerintah, maka akan mengalami kenaikan harga jual. Dan hal ini akan menggerus daya beli rakyat.
Peningkatan Subsidi akan Mengurangi Alokasi Anggaran Lain
Jangan bayangkan subsidi negara berasal dari sumbangan Bank Dunia atau lainnya. Subsidi diambil dari anggaran yang ada. Itu artinya, akan berdampak pada pengurangan anggaran untuk hal lain.
Mungkin akan diambil dari dana kesehatan, dana pendidikan, dan dana-dana anggaran lainnya. Pengurangan ini tentu akan berdampak pada alokasi yang seharusnya. Setidaknya, akan terjadi penundaan pembayaran.
Mengurangi Daya Saing Negara
Penurunan nilai mata uang negara akan menambah biaya operasional produk jika bahannya dibeli dengan dolar. Misalnya mesin, produk elektronik, dan lainnya. Karena komponen utamanya dengan dolar, maka nilai jualnya akan mahal.
Nilai investasi dari luar akan menurun. Dampaknya, akan banyak PHK seiring hengkangnya perusahaan asing ke luar negeri karena produknya tidak laku di Indonesia.
Kerawanan Sosial di Masyarakat
Seiring dengan tanda-tanda ekonomi negara yang memburuk: banyaknya pengangguran, daya beli turun, bangkrutnya perusahaan; maka akan memunculkan banyak kerawanan sosial.
Kerawanan itu antara lain terjadinya peningkatan kriminalitas, hingga kemarahan publik yang berdampak pada kerusuhan dan lainnya. Hal ini akan kembali memberikan dampak buruk pada kinerja ekonomi negara.
Kesenjangan Ekonomi Rakyat yang Kian Melebar
Orang-orang kaya biasanya akan berinvestasi di sektor yang aman dan menguntungkan. Misalnya, deposito dolar, investasi ke luar negeri, dan lainnya.
Untuk mereka, kenaikan dolar terhadap rupiah akan meningkatkan nilai kekayaan mereka di dalam negeri. Hal ini karena mereka membelanjakan uangnya dalam bentuk rupiah, sementara pemasukan mereka dalam bentuk dolar.
Di sisi lain, rakyat yang tidak ‘bersentuhan’ dengan dolar, akan kian terpuruk karena inflasi, phk, dan daya beli. Hal ini akan menggerus tingkat ekonomi mereka, dari yang sebelumnya menengah menjadi bawah.
Suatu saat, jika hal ini terus berlanjut, tingkat ekonomi rakyat akan hanya ada dua: atas dan bawah. Tingkat menengahnya turun ke tingkat bawah. Dan hal ini akan berakibat fatal terhadap politik, keamanan, dan ekonomi negara. Semoga ini tidak terjadi [Mh]


