PERUBAHAN sosial yang cepat memunculkan berbagai kekhawatiran dalam pola pengasuhan anak, termasuk isu yang kerap disebut sebagai “krisis kelaki-lakian.”
Istilah ini merujuk pada anggapan bahwa sebagian anak laki-laki menunjukkan karakter yang dinilai tidak sesuai dengan ekspektasi tradisional terhadap peran laki-laki.
Meski demikian, fenomena ini perlu dipahami secara objektif dengan mempertimbangkan faktor sosial, budaya, dan pola asuh yang berkembang.
Fatherman mengungkapkan bahwa salah satu faktor yang sering disoroti adalah peran ayah dalam keluarga.
Ayah tidak hanya berfungsi sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai figur penting dalam pembentukan karakter anak, terutama anak laki-laki.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Kehadiran ayah secara emosional dan psikologis diyakini dapat memberikan contoh tentang tanggung jawab, ketegasan, dan pengendalian diri.
Sebaliknya, keterlibatan yang minim dapat memengaruhi proses pembentukan identitas anak.
Namun, penting untuk dicatat bahwa konsep “kelaki-lakian” sendiri tidak bersifat tunggal atau statis.
Nilai-nilai seperti keberanian, tanggung jawab, empati, dan integritas dapat dimiliki oleh siapa pun, tanpa harus dibatasi secara kaku oleh stereotip gender.
Peran Ayah dan Tantangan Pembentukan Karakter Anak Laki-Laki
Oleh karena itu, pendekatan pengasuhan yang efektif bukan hanya menekankan perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan, tetapi juga mengembangkan potensi individu secara seimbang.
Dalam praktiknya, anak laki-laki memang membutuhkan figur teladan yang konsisten, baik dari ayah maupun lingkungan sekitarnya.
Ketegasan dapat diajarkan bersamaan dengan empati, dan kemandirian dapat dibangun tanpa mengabaikan kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama.
Baca juga: Pentingnya Sentuhan Emosional dalam Tumbuh Kembang Anak Laki-laki
Dengan demikian, peran ayah tetap penting, tetapi tidak berdiri sendiri; ibu dan lingkungan sosial juga memiliki kontribusi besar.
Menghadapi tantangan ini, pendekatan yang proporsional dan berbasis nilai menjadi kunci.
Alih-alih melihatnya sebagai krisis semata, situasi ini dapat menjadi momentum untuk merefleksikan kembali pola pengasuhan yang lebih adaptif, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan perkembangan anak di masa kini.[Sdz]





