ISLAM mengeluarkan manusia dari gelapnya kebodohan menuju terangnya hidayah. Di situlah sisi perjuangannya.
Sebelum menjadi Nabi dan Rasul, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hidup dalam kenyamanan. Ekonominya mapan, status sosialnya terhormat, dan begitu dicintai oleh keluarga besar: Bani Hasyim.
Sebegitu dicintainya, bahkan seorang paman Nabi yang bernama Abu Lahab menjodohkan dua putranya dengan dua putri Nabi. Utbah dengan Ruqayyah, dan Utaibah dengan Ummu Kulsum.
Meski belum tinggal serumah, jalinan itu sudah sah sebagai dua besan yang terikat dalam pernikahan dua anak mereka. Hal ini sejalan dengan tradisi Arab saat itu, anak-anak dijodohkan ketika masih usia belia: sekitar 8 hingga 10 tahunan.
Ketika suami istri cilik ini dirasa sudah siap untuk tinggal serumah, maka barulah mereka ditempatkan dalam rumah tersendiri yang terpisah dari ayah ibu mereka.
Posisi rumah Nabi dengan rumah Abu Lahab pun sangat berdekatan. Hanya dipisah oleh jalan umum. Jadi, sekitar hampir saling berhadapan.
Bani Hasyim sudah dikenal warga Quraisy sebagai keturunan pelayan Ka’bah. Mereka begitu dihormati karena status sosial ini.
Nabi juga dikenal warga Quraisy sebagai orang yang amanah, sangat bisa dipercaya. Tidak pernah berdusta, selalu tepat janji, dan tidak pernah mengkhianati titipan apa pun kepadanya.
Jangankan mengejek atau merendahkan, warga Quraisy termasuk pembesarnya sangat menghormati Nabi. Nabi pernah mendapatkan kehormatan untuk memutuskan bagaimana cara adil memindahkan Hajar Aswad ke tempat saat renovasi Ka’bah.
Nabi membentangkan kain. Hajar Aswad ia letakkan di tengah-tengah kain itu. Dan semua perwakilan suku diminta untuk memegang sisi-sisi kain untuk bersama-sama mengangkat Hajar Aswad. Semua merasa dihormati. Dan semua merasa dihargai.
Namun, apa yang terjadi ketika Islam datang. Ketika Nabi menjadi Nabi dan Rasul. Rasa hormat dan cinta berubah menjadi benci dan permusuhan. Itulah perjuangan berat yang dialami Nabi.
Mereka bukan hanya menghina dan melecehkan. Bahkan tidak sedikit yang berani menyakiti fisik Nabi. Ada pula yang menjuluki Nabi sebagai orang gila atau orang yang kemasukan setan.
Begitu pun dengan paman yang sebelumnya begitu mencintai Nabi: Abu Lahab. Dia memutuskan untuk menceraikan status pernikahan dua putri Nabi dengan dua putranya. Siksaan batin akhirnya juga dialami istri dan anak-anak Nabi.
Kecintaan Ummu Jamil, istri Abu Lahab, terhadap keluarga Nabi juga berubah seratus delapan puluh derajat. Hampir tak ada waktu yang berlalu setiap hari kecuali ada upaya untuk menyakiti keluarga Nabi.
Apa saja. Mulai dari meletakkan duri di depan rumah Nabi, mengotori perabot dapur dengan kotoran, dan masih banyak lagi. Hal itu berlangsung selama bertahun-tahun.
Kalau paman Nabi saja berubah menjadi memusuhi, bagaimana dengan suku lain yang tak punya hubungan kekeluargaan langsung.
Itulah sekelumit kisah perjuangan yang dialami Nabi dan keluarga. Semua dialami setelah Islam datang melalui Nabi. Hal itu dialami Nabi hingga akhir hayat beliau, dengan berbagai bentuk, musuh, dan cakupannya.
**
Tak semua orang itu baik, sebagaimana tak semua orang buruk. Islam memisahkan kadar kebaikan dan keburukan mereka.
Mereka yang baik akan bergabung dan menjadi ikatan persaudaraan yang kuat. Dan mereka yang buruk akan selalu memusuhi dengan berbagai cara yang mereka bisa.
Pergelutan ini terus terjadi hingga akhir zaman. Dan di sinilah Allah subhanahu wata’ala menguji hamba-hamba-Nya.
Di sinilah pula, kita memahami bahwa hidup ini hanya arena ujian. Dengan begitu, Allah akan memberikan ganjaran dari susah payah mereka.
Dengan rahmat dan sayang-Nya, Allah tidak menghidupkan hamba-hamba-Nya begitu lama. Ada saatnya mereka kembali kepada Allah untuk beristirahat dan menerima anugerah surga.
Selalulah berdoa agar Allah senantiasa menetapkan iman dan Islam kita. Sampai akhir hayat yang tak begitu lama. [Mh]





