LEBARAN akhirnya usai. Semua pun kembali ke pos semula. Lalu, apa saja oleh-oleh dari Lebaran?
Sepekan sudah Lebaran membentuk suasana kegiatan kita. Ada silaturahim, pulang kampung, halal bihalal, kumpul warga, dan lainnya.
Namun begitu, kita tak boleh gagal fokus. Lebaran bukan liburan. Lebaran bukan pelesiran. Lebaran bukan sekadar jalan-jalan.
Oleh-oleh dari Lebaran
Sejumlah oleh-oleh akan kita dapatkan jika Lebaran dikelola dengan baik. Diisi dengan niat mencari ridha Allah dan ditujukan untuk menjalin kembali kesegaran bersaudara dalam keluarga.
Satu, Saling Memaafkan
Hal utama yang bisa diraih dari oleh-oleh Lebaran adalah adanya saling memaafkan sesama keluarga besar, sesama warga lingkungan, teman sejawat, dan lainnya.
Saling memaafkan bisa dibayangkan seperti detoksifikasi atau pembersihan racun dalam diri kita. Selama satu tahun ini, begitu banyak khilaf dan salah yang melekat dalam hati, dan hal itu akan meracuni persaudaraan kita.
Dua, Saling Memahami
Tak akan ada saling memaafkan jika tanpa saling memahami. Karena maaf berangkat dari ketulusan diri menerima sanak kerabat dan sejawat apa adanya. Memahami bahwa segala yang ‘nyangkut’ di hati sebagai yang bukan disengaja. Tapi karena keteledoran, kekhilafan, bahkan ketidaktahuan.
Saling memahami bahwa apa pun kekeliruan yang dimunculkan sebagai bukan karakter asli seseorang. Melainkan keterpaksaan atau kekhilafahan.
Bahkan kalau pun itu terjadi karena sadar, terjadinya di masa lalu dan tak perlu lagi dipertahankan untuk rentang waktu yang lama.
Saling Mengenal
Saling memahami tak akan muncul tanpa diawali dengan saling mengenal satu sama lain. Saling mengenal tidak didapat dari basa-basi, pencitraan, dan teoritis persaudaraan lainnya.
Saling mengenal diperoleh dari kedalaman interaksi dalam satu momen yang lama dan dalam. Misalnya, dalam sebuah perjalanan panjang, antara lain dalam suasana pulang kampung itu sendiri.
Selalu saja hadir hal baru di tiap tahun Lebaran berikutnya. Baik karena kemunculan anggota keluarga baru, status baru, nuansa posifit dan negatif yang baru.
Misalnya, yang sebelumnya masih remaja kini sudah lebih dewasa. Yang sebelumnya lajang, kini sudah punya pasangan. Yang sebelumnya hanya pasangan suami istri, kini sudah punya momongan. Dan seterusnya.
Masih banyak variabel hidup yang diperoleh dari saling mengenal. Dari situ kita bisa memahami, misalnya, kenapa ada anggota keluarga yang tidak bisa ikut hadir, tidak bisa ikut nyumbang uang, dan lainnya.
Ada pepatah lama mengatakan: siapa tak kenal, maka tak sayang. Saling mengenal dalam keluarga besar merupakan tangga awal untuk meraih saling sayang dan cinta.
Kalau di setiap Lebaran ada raihan kesan positif, maka momen Lebaran akan menjadi begitu dinanti.
Jadi, oleh-oleh Lebaran bukan baju baru, dan hal baru lainnya. Melainkan, semangat baru untuk terus hidup harmonis dalam sebuah keluarga besar. [Mh]


