UMUR panjang merupakan anugerah Allah. Ada suka duka di balik kebaikan itu. Tapi, kadang ujiannya tidak bisa dianggap enteng.
Ada seorang istri Nabi yang umurnya paling panjang dari yang lain. Ia wafat ketika yang lain sudah lebih dahulu wafat. Ia pun menjadi saksi dari semua kedukaan itu.
Namanya Hindun bin Abi Umayyah. Ia lahir setelah 29 tahun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lahir. Salah satu anaknya bernama Salamah. Karena itulah, ia lebih dikenal dengan panggilan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha.
Ummu Salamah tergolong sahabiyah yang senior. Ia dan suaminya, Abdullah bin Abdul Asad radhiyallahu ‘anhu mengalami banyak masa susah di awal dakwah di Mekah. Sebegitu susahnya, Rasulullah meminta sebagian sahabat dan sahabiyah hijrah ke Ethiopia. Termasuk di antara mereka adalah Ummu Salamah dan suami.
Sebenarnya di Quraisy, Ummu Salamah tergolong wanita bangsawan. Ia keturunan dari Bani Makhzum, salah satu suku pembesar Quraisy. Ia juga sepupu dari Khalid bin Walid. Begitu pun dengan suaminya. Bahkan, suaminya merupakan saudara sepesusuan dengan Nabi.
Ketika keduanya balik dari Ethiopia, mereka ditangkap oleh Quraisy. Saat itu, umat Islam dan Rasulullah sudah hijrah ke Madinah.
Namun, suami Ummu Salamah dan anaknya diperbolehkan pergi ke Madinah, sementara ia tidak. Ummu Salamah bahkan sempat terpisah dengan suami dan anak hingga satu tahun. Ia kerap menangis untuk bisa diizinkan pergi menyusul suaminya. Dan akhirnya, Ummu Salamah diizinkan berangkat ke Madinah.
Satu hal terjadi di masa Perang Uhud. Suaminya terluka para dalam perang itu. Satu tahun kemudian, luka itu tambah parah dan akhirnya Abu Salamah wafat.
Sebelum wafat, suaminya berpesan agar Ummu Salamah dipersilakan untuk menikah lagi. “Insya Allah, engkau akan mempunyai suami yang jauh lebih baik dari aku!” ucap sang suami.
Keduanya telah memiliki empat orang anak: Salamah, Umar, Zainab, dan Durrah. Dua laki-laki dan dua perempuan. Kelak, Umar dan Zainab menjadi ulama terkenal.
Setelah melewati masa iddah, Ummu Salamah dilamar oleh sahabat-sahabat utama, yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhuma. Tapi, keduanya ditolak oleh Ummu Salamah.
Ummu Salamah pun akhirnya dilamar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tapi, Ummu Salamah menyampaikan keadaan dirinya yang apa adanya.
“Ya Rasulullah, aku ini wanita yang pencemburu. Aku sudah tidak muda lagi, dan anakku sudah empat,” ujarnya.
Rasulullah menjawab, “Insya Allah, Allah akan menghapus yang pertama. Tentang tidak muda lagi, aku pun sudah tua. Dan tentang anak-anakmu, itu akan menjadi anakku juga.”
Akhirnya, Ummu Salamah menerima lamaran Rasulullah. Pernikahan ini memberikan hikmah yang banyak. Antara lain, menyatukan dua suku dari Quraisy: Bani Hasyim dan Bani Makhzum. Dan kelak, ini akan memiliki pengaruh tersendiri terhadap masuk Islamnya Khalid bin Walid.
Kedua, di Madinah itu, Ummu Salamah tidak memiliki sanak kerabat. Kecuali, empat anaknya. Dan ketiga, Ummu Salamah tergolong wanita yang cerdas. Saat menikah dengan Nabi, usia Ummu Salamah 29 tahun.
Setidaknya, ada dua ayat Al-Qur’an yang turun dengan sebab perjalanan hidupnya. Yaitu, Surah An-Nisa ayat 32, dan Surah Ali Imran ayat 195.
Allah menganugerahkan Ummu Salamah usia yang panjang. Ia masih hidup ketika Rasulullah wafat. Begitu pun ketika Khalifah Abu Bakar wafat, Khalifah Umar wafat, Khalifah Usman wafat, dan Khalifah Ali juga wafat.
Termasuk juga, ia masih hidup ketika seluruh istri Nabi wafat. Ummu Salamah menjadi istri Rasulullah yang terakhir wafat. Ia wafat di usia 84 tahun.
Banyak keberkahan dari usia panjangnya itu. Antara lain, ia menjadi narasumber para ulama muda untuk menggali kehidupan Rasulullah dan sahabat.
Namun begitu, ia juga merasakan kesedihan yang terus berulang. Yaitu, banyaknya fitnah terjadi setelah wafatnya Rasulullah. Dan, kesedihan ketika sahabat-sahabat Rasulullah wafat satu per satu.
**
Bersyukurlah ketika Allah menganugerahkan kita umur panjang. Setidaknya lebih lama dari usia umumnya, yaitu antara 60 dan 70.
Namun begitu, ada sisi lain yang cukup menguji istiqamah kita. Yaitu, mengalami banyak fitnah dakwah. [Mh]


