MENGAJARKAN anak berpuasa sejak dini merupakan bagian dari pendidikan agama. Namun, proses adaptasi ini memerlukan pengawasan ketat dari orangtua, terutama terkait kemampuan tubuh anak dalam mengelola cadangan energi selama belasan jam tanpa asupan makanan dan minuman.
Salah satu risiko kesehatan yang paling krusial untuk diwaspadai adalah hipoglikemia. Beberapa gejalanya mencakup pucat, berkeringat, lapar, dan lemah.
Hipoglikemia merupakan kondisi emergensi yang dapat mengancam nyawa pada anak yang bisa disebabkan gangguan keseimbangan pengaturan glukosa.
Dengan kata lain, hipoglikemia terjadi ketika kadar gula darah anak merosot tajam di bawah angka normal, yang jika tidak segera ditangani, dapat berakibat fatal bagi keselamatan buah hati. Sumber energi utama untuk mendukung segala aktivitas tubuh manusia adalah glukosa.
Baca juga: 4 Tips Jalani Ramadan untuk Mualaf yang Baru Pertama Kali Berpuasa
Gejala Hipoglikemia saat Anak Baru Belajar Berpuasa
Dalam kondisi normal, kadar gula darah anak seharusnya berada di rentang 70-100 mg/dL. Jika angka tersebut sudah menyentuh di bawah 70 mg/dL, maka anak sudah masuk dalam kategori hipoglikemia.
Kemampuan tubuh anak dalam menyimpan glukosa sebenarnya berkembang seiring bertambahnya usia. Pada bayi, simpanan energi dalam bentuk glikogen di hati hanya mampu bertahan selama empat jam.
Namun, pada anak-anak yang lebih besar, kapasitas penyimpanan ini meningkat sehingga idealnya mampu menyuplai kebutuhan glukosa hingga 12 jam.
Ketika anak mengonsumsi makanan, glukosa dibentuk dari pemecahan karbohidrat, kemudian diserap ke dalam pembuluh darah untuk digunakan sebagai sumber energi. Sebagian disimpan sebagai glikogen dalam hati atau diubah menjadi sel lemak. Setelah dua sampai tiga jam, kadar glukosa akan berkurang.
Untuk mencegah anak mengalami penurunan gula darah secara drastis di siang hari, pemilihan menu sahur memegang peranan kunci.
Berikan makanan dengan indeks glikemik rendah yang akan melepaskan glukosa secara perlahan (ke dalam aliran darah), sehingga kadar gula darah tetap stabil.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Jenis makanan seperti kacang-kacangan, sayuran, serta buah-buahan seperti apel, pir, dan jeruk, adalah pilihan tepat untuk disantap setelah anak mengonsumsi makanan berat.
Selain itu, pemberian protein dan lemak yang seimbang setelah anak menyantap makanan berat saat sahur sangat dianjurkan untuk mendukung proses tumbuh kembang sekaligus menjaga stabilitas energi.
Sebaliknya, orangtua sangat disarankan untuk menghindari pemberian makanan dengan indeks glikemik tinggi saat sahur, seperti roti putih, donat, krakers, hingga makanan kalengan dengan kadar gula tinggi.
Meski terasa memberikan energi instan, jenis makanan ini justru berbahaya bagi anak yang sedang berpuasa.
Makanan jenis ini menyebabkan kadar gula darah melonjak dengan cepat, tetapi juga merosot dengan cepat. Akibatnya, anak akan merasa sangat lelah dan lebih cepat merasa lapar karena kondisi gula darah yang tidak stabil di tengah hari. [Din]





