DAKWAH itu harus diketahui banyak orang agar banyak pesertanya. Tapi, adakalanya yang tersembunyi itu lebih baik.
Di masa awal pembinaan Islam oleh Rasulullah, dilakukan dengan cara rahasia. Lokasinya di sebuah rumah biasa. Nama pemiliknya Al-Arqam bin Abi Arqam radhiyallahu ‘anhu.
Al-Arqam lahir dua puluh tahun lebih belakangan dari kelahiran Rasulullah. Ketika masuk masa kenabian, usianya sudah 20 tahun.
Orangnya begitu bersahaja. Pendiam dan hampir tak banyak orang yang mengetahui sosoknya. Padahal, rumahnya tak jauh dari bangunan Ka’bah. Tepatnya di bukit Shafa.
Rumahnya berada di paling belakang dari deretan rumah yang mengelilingi Ka’bah saat itu. Di urutan depannya ada Darun Nadwa atau semacam gedung DPRnya warga Quraisy tempo dulu.
Jadi, jika saat itu orang hanya fokus di sekitaran Ka’bah dan tidak masuk ke gang-gang sempit hingga ke belakang, maka tak akan melihat suasana ‘aneh’ di rumah Al-Arqam itu.
Al-Arqam masuk Islam tergolong awal. Ia tergolong sepuluh besar yang pertama kali masuk Islam. Dan ia rela menjadikan rumahnya sebagai pusat pembinaan Islam di masa awal itu.
Padahal, risikonya begitu besar. Jika saja diketahui pihak Quraisy, maka keselamatan nyawanya bisa terancam.
Masa-masa rahasia itu tergolong tidak terlalu lama. Hanya sekitar 3 sampai 4 tahun. Ketika Umar bin Khaththab dan Hamzah radhiyallahu ‘anhuma masuk Islam, Rasulullah menerapkan dakwah secara terbuka. Alias, terang-terangan.
Di masa awal-awal itu, orang yang ikut pembinaan di rumah Al-Arqam tidak boleh datang berdua. Harus sendiri-sendiri, diam-diam, dan tidak banyak menjadi daya tarik orang lain. Begitu pun ketika pulangnya.
Al-Arqam ikut hijrah bersama kaum muslimin ke Madinah. Ia juga ikut dalam peperangan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dalam Perang Badar, Rasulullah menghadiahi Al-Arqam sebuah pedang dari ghanimah perang itu.
Meski ia wafat jauh setelah wafatnya Rasulullah, yaitu di masa awal Dinasti Umayyah, sosoknya tetap senyap. Ia wafat di usia sekitar 83 tahun. Dan memberikan wasiat agar dishalatkan oleh Saat bin Abi Waqash yang juga generasi awal sahabat.
**
Di balik gemerlap dakwah saat ini, jauh sebelum ini, ada kisah-kisah dakwah yang dilakukan sembunyi-sembunyi. Penuh rahasia dan senyap.
Bukan karena takut. Bukan pula karena ingin eksklusif. Tapi, karena ingin menjaga keamanan benih-benih kecil dakwah. Masa itu akan berakhir ketika benih-benih itu tumbuh besar dan kuat.
Mulai dan bangunlah generasi dakwah dari yang kita bisa. Bermula dari kecil dan sedikit, dengan izin Allah subhanahu wata’ala akan menjadi besar dan banyak. [Mh]


