KAUM Yahudi selalu memusuhi Islam. Mereka tidak ridha hingga umat Islam mengikuti agama mereka.
Islam di Madinah
Pasca hijrah ke Madinah, ada fenomena baru yang tidak dialami umat Islam di Mekah. Yaitu, mereka mengalami permusuhan oleh kaum Yahudi. Padahal, nenek moyang mereka dulunya pengikut para Nabi, yaitu dari Bani Israil atau umat Nabi Ya’kub alaihissalam.
Di Madinah, komunitas Yahudi begitu kuat. Jumlah mereka hampir separuh warga Madinah saat itu.
Dari jumlah memang masih di bawah warga muslim Anshar, tapi dari penguasaan ekonomi dan politik, kaum Yahudi lebih dominan. Mereka menguasai pasar, sumber air, dan punya pasukan khusus dan benteng-benteng yang kuat.
Nabi datang memuliakan mereka. Mengajak mereka bersatu dalam kesepakatan yang disebut dengan Piagam Madinah. Yaitu, sebuah perjanjian damai yang menyatukan siapa pun warga Madinah, termasuk Yahudi.
Namun, mereka berkhianat. Diam-diam, mereka menjalin kesepakatan jahat dengan pihak kafir Quraisy di Mekah untuk menyerang umat Islam dari dalam Madinah sendiri. Itulah asal muasal Perang Ahzab.
Kiblat Baitul Maqdis
Hal lain bentuk pemuliaan Islam di Madinah terhadap kaum Yahudi adalah kiblat shalat umat Islam. Pada awal kewajiban shalat lima waktu itu, kiblat tidak ke arah Ka’bah di Mekah. Melainkan, ke arah Baitul Maqdis di Palestina.
Kiblat itu merupakan kiblat yang juga dilakukan kaum Yahudi. Kurang lebih, sekitar 18 bulan Rasulullah dan umat Islam menghadap ke arah Baitul Maqdis dalam shalat mereka, hingga akhirnya turun ayat yang memerintahkan arah kiblat ke arah Ka’bah di Mekah.
Selama arah kiblat ke Baitul Maqdis atau sama dengan kiblatnya Yahudi, kaum Yahudi di Madinah sama sekali tak merasakan adanya kesamaan risalah. Mereka hanya terfokus pada fanatisme kelompok mereka: keturunan Bani Israil. Bukan keturunan Nabi Ismail.
Padahal, begitu banyak firman Allah turun menjelaskan tentang keberadaan kaum Bani Israil. Yang intinya, Islam sebagai risalah terakhir para Nabi dan Rasul. Dan semua umat manusia harus kembali kepada Islam, termasuk kaum Yahudi.
Merasa Dengki dengan Islam dan Rasulullah
Ada persoalan lain dari karakter mereka yang memang bebal, fanatik, tertutup. Yaitu, ada kedengkian mendalam terhadap Islam dan Rasulullah.
Seorang sahabat Nabi yang juga pemimpin kaum Anshar dari suku Khazraj: Saad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu pernah mengajak kaum Yahudi di sana memeluk Islam.
Saad mengatakan kepada mereka, “Kalian dahulu mengatakan kepada kami akan datangnya seorang Nabi. Dan kini, Nabi itu sudah datang. Kenapa kalian tidak mau mengikutinya, padahal kalian lebih tahu daripada kami!”
Penolakan itu ternyata begitu sederhana. Yaitu, Nabi yang datang itu bukan dari keturunan mereka. Bukan dari keturunan Bani Israil. Tapi dari keturunan Nabi Ismail.
Kaum Yahudi juga Dendam Hingga Kapan pun
Salah satu sebab kaum Yahudi terus-menerus memusuhi Islam pasca wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hingga saat ini adalah karena mereka dendam dengan Islam.
Mereka dendam karena Islam ‘menyingkirkan’ mereka dari tanah Arab. Di masa Nabi, mereka memang tidak diusir. Tapi di masa Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, mereka dipindahkan secara massal ke Suriah dan sekitarnya.
Hal ini karena pengkhianatan kaum Yahudi di tanah Arab selalu kerap terjadi. Dan hal ini, menurut Khalifah Umar bin Khaththab sebagai kerawanan terhadap pusat pemerintahan Islam saat itu: Madinah.
Memang, keputusan Khalifah Umar itu sangat tepat. Bayangkan, meski domisili mereka tidak lagi di tanah Arab, tapi manuver jahat mereka kerap saja tertuju pada dua kota suci Islam: Mekah dan Madinah. Hingga saat ini.
Hingga saat ini, mereka begitu antusias untuk menjadikan Mekah dan Madinah sebagai negeri yang terjalin dalam hubungan diplomatik dengan Israel. Dan nyaris saja itu terjadi pada September tahun 2023 lalu, kalau saja tidak digagalkan oleh pasukan Hamas melalui serangan 7 Oktober 2023 ke Israel saat itu.
Karena serangan itulah, jalinan yang hampir jadi itu menjadi batal. Penguasa Mekah dan Madinah seperti merasa ‘tertampar’ oleh manuver luar biasa Hamas.
Perang yang Tak Berkesudahan
Ada orang ‘awam’ yang berharap terjalin hubungan damai antara Islam dan Israel. Harapan itu sebenarnya didasari oleh ketidaktahuan tentang jatidiri Israel yang sesungguhnya.
Israel bukan sebuah negara seperti umumnya negara lain di dunia ini. Israel seperti kumpulan penjahat yang merampas, membantai, dan terus memerangi umat Islam di mana pun. Bukan hanya di Palestina.
Israel seperti akumulasi dari dendam dan dengki kaum Yahudi terhadap umat Islam selama 14 abad lalu ketika mereka terusir dari tanah Arab. Dan kini, mereka ingin merampas tanah suci Islam ketiga: Baitul Maqdis.
Target itu sudah tercapai sejak tahun 1948. Yang belum tercapai adalah penguasaan mereka terhadap Mekah dan Madinah. Dan hal itu akan selalu menjadi obsesi mereka hingga akhir zaman.
Jadi, siasat licik, peperangan dan kejahatan kemanusiaan akan terus mereka lakukan terhadap umat di mana pun, hingga semua cita-cita dan dendam mereka terbayarkan.
Perdamaian dengan Israel hanya dengan Jihad
Jauh-jauh hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan, “…Sesungguhnya jihad yang paling utama di antara kalian adalah di Asqolan.”
Asqolan adalah sebuah wilayah yang meliputi Gaza dan Rafah saat ini. Wilayah itu merupakan tanah kelahiran Imam Syafi’i rahimahullah dan juga para ulama hebat lainnya.
Ketika Nabi mengucapkan itu, tanah Asqolan belum dikenal oleh para sahabat. Karena Islam baru masuk ke wilayah itu di masa Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu.
Dari isyarat ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu menunjukkan bahwa jalan damai yang akan terwujud di bumi Palestina dan sekitarnya hanya dengan jihad. Bukan dengan berbagai ‘perjanjian damai’ yang merupakan ‘gorengan’ Israel dan konco-konconya.
Jalan jihad itulah yang kini dilakukan Hamas dan pergerakan Islam lainnya. Dan jalan itu pula yang akan mengakhiri kesombongan Israel suatu hari nanti. Sebuah jalan yang melahirkan perdamaian hakiki di bumi Palestina dan sekitarnya. [Mh]


