MALAM Nisfu Sya’ban berlangsung pada Senin malam ini (2/1). Masjid-masjid tumpah ruah oleh ribuan jamaah: laki, perempuan, dan anak-anak. Indahnya syiar Islam di malam Nisfu Sya’ban.
Awal Mula Acara Nisfu Sya’ban
Amaliyah di malam Nisfu Sya’ban memang merupakan hal khilafiyah di umat Islam. Namun begitu, syiarnya bisa memberikan efek lain untuk umat Islam. Hal inilah yang pernah dilakukan di masa Tabi’in di tanah Syam atau Suriah.
Di tahun sebelum ke-100 hijriyah itu, seorang ulama Tabi’in bernama Khalid bin Ma’dan rahimahullah berijtihad untuk mengajak umat menghidupkan malam Nisfu Sya’ban berjamaah di masjid-masjid.
Khalid bin Ma’dan merupakan ulama salaf yang juga pakar dalam bidang fikih dan hadis. Beliau belajar dari banyak sahabat Nabi, terutama Sayyidina Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu.
Dari sejarah perjalanan dakwahnya, Khalid bin Ma’dan hampir selalu bersama gurunya itu. Mulai dari Yaman, tempat di mana ia lahir, hingga di Suriah tempat di mana ia dan gurunya itu wafat.
Para ulama hadis mengenal betul sosok beliau. Khalid dikenal sebagai ulama tabi’in yang tsiqah atau sangat bisa dipercaya, termasuk hadis-hadis yang melalui jalurnya.
Bisa dibilang, hadis yang sahih dan diakui para ulama hadis tentang malam Nisfu Sya’ban adalah dari riwayatnya. Meskipun, banyak hadis tentang Nisfu Sya’ban yang juga melalui riwayat para sahabat yang lain, selain dari Muadz bin Jabal.
Hadis itu adalah: Allah subhanahu wata’ala memperhatikan makhluk-Nya di malam pertengahan Nisfu Sya’ban. Maka Allah mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali yang musyrik dan orang yang selalu menghidupkan permusuhan sesama manusia (musyahin).
Kenapa Hanya di Suriah
Para ulama menganilisis kenapa menghidupkan malam Nisfu Sya’ban secara berjamaah di masjid hanya terjadi di Suriah. Dan, tidak terjadi di kawasan hijaz atau Mekah dan Madinah.
Hal ini karena di Suriah saat itu masih dalam suasana perang dengan Romawi. Momen malam Nisfu Sya’ban yang dilakukan di masjid-masjid secara berjamaah itu dimaksudkan untuk syiar kekuatan umat Islam.
Syiar Islam itu Tetap Dibutuhkan di Negeri Muslim Saat Ini
Tidak semua negeri muslim dalam suasana homogen: Islam begitu kuat dan melekat di masyarakatnya. Saat ini, banyak juga negeri-negeri muslim yang butuh momen kebersamaan dan syiar penguatan keislaman. Termasuk di Indonesia.
Momen malam Nisfu Sya’ban dihadiri oleh semua kalangan. Termasuk, wanita dan anak-anak. Inilah momen untuk mengajak kembali seluruh lapisan masyarakat akrab dengan masjid dan tokoh-tokoh Islam di sana.
Ghirah atau semangat mereka tentang Islam kembali segar setelah selama ini sepi dan senyap. Shalat Jumat memang dihadiri banyak umat Islam, tapi hanya pria.
Momen ini juga bisa menjadi suasana menjalin keakraban keluarga muslim dengan suasana masjid. Para tetangga saling bertemu dan sebagainya.
Momen Tarhib Ramadan
Satu lagi yang juga hampir berkaitan dengan syiar malam Nisfu Sya’ban. Yaitu, umat merasakan suasana lain tentang dekatnya bulan suci Ramadan.
Momen ini seperti alarm pengingat bahwa hanya dua pekan lagi, Ramadan akan tiba. Karena itu, bersiaplah. Siapkan fisik dan ruhani sebaik mungkin.
Lakukan pengubahan jadwal kesibukan sehari-hari. Karena umat Islam akan menjalani ibadah puasa di siang hari, dan menunaikan shalat sunnah tarawih di malam hari. Begitu pun dengan kegiatan syiar Ramadan lainnya.
Sekali lagi, ambillah hikmah dari syiar malam Nisfu Sya’ban ini. Jangan tersibukkan dengan sisi khilafiyahnya yang justru memunculkan aura negatif dalam diri umat Islam. [Mh]





