PERSAHABATAN lawan jenis itu seharusnya hanya dengan pasangan kita. Hanya dengan suami atau istri kita.
Menikah, berarti siap untuk tak lagi punya sahabat lawan jenis selain pasangan kita. Hanya pasangan halal yang berhak atas kedekatan, cerita, dan ruang paling dalam di hati kita.
Banyak mereka yang sudah menikah berdalih ketika punya sahabat lawan jenis.
“Kami hanya sekedar berteman.”
“Kami tahu batas.”
“Yang penting tidak selingkuh.”
Semua itu bullshit. Masalahnya, perselingkuhan tidak selalu dimulai dari sentuhan, tapi dari kedekatan emosional.
Dari obrolan rutin. Dari curhat yang seharusnya hanya untuk pasangan. Dari candaan yang perlahan berubah menjadi perhatian khusus.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Perilaku menggoda (flirting) tidak selalu vulgar. Kadang hanya senyum, nada suara, atau perhatian kecil yang terasa “berbeda”.
Dan dari situlah hati mulai tergelincir, meski mulut terus menyangkal.
Mengaku tidak ada ketertarikan seksual bukan jaminan. Karena yang paling sering melukai pasangan sah bukan tubuh, tapi rasa nyaman yang dibagi dengan orang lain.
Setiap kedekatan emosional dengan lawan jenis adalah pengkhianatan kecil terhadap pasangan, meski belum disebut zina kelamin, tapi sudah bisa disebut zina hati.
Pasangan Kita, Sahabat Lawan Jenis Satu-satunya
Islam bukan hanya melarang zina kelamin, tetapi menutup semua pintu yang mengarah ke sana.
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. 17 ayat 32)
Orang yang sudah menikah harus membatasi interaksi dengan lawan jenis. Batasan ini wajib, bukan opsional.
Tak ada alasan untuk curhat soal rumah tangga kepada sahabat lawan jenis, berbagi keluh kesah pribadi, apalagi sampai menghabiskan waktu berdua dan menyimpan rahasia kedekatannya dari pasangan sah.
Jika hubungan itu perlu disembunyikan dari pasangan, maka jelas ada yang salah.
Baca juga: Jangan Gampang Menuduh Zina
Kepercayaan dalam pernikahan bukan berarti bebas melakukan apa saja. Justru orang yang benar-benar menjaga kepercayaan akan menjaga jarak, bukan menguji batas.
Pasangan dengan segala kelebihan dan kekurangannya adalah rumah, prioritas, dan tujuan akhir.
Orang lain di luar sana bukan tempat bersandar, hanya sekadar rekan seperlunya.
Tidak ada chat tersembunyi. Tidak ada pertemuan diam-diam. Tidak ada cerita yang “disensor” demi menjaga kenyamanan diri sendiri.
Pernikahan menuntut pengorbanan. Termasuk membatasi kesenangan pribadi demi menjaga ketenangan rumah tangga.
Demi suksesnya ibadah terlama, yaitu pernikahan yang samara. Dan ingat, semua yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak.
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. 24 ayat 30)
Ini merupakan perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala ditujukan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar mereka menahan pandangan matanya terhadap hal-hal yang diharamkan bagi mereka.
Oleh karena itu janganlah mereka melihat kecuali kepada apa yang dihalalkan bagi mereka untuk dilihat, dan hendaklah mereka menahan pandangannya dari wanita-wanita yang muhrim.
Untuk itu apabila pandangan mata mereka melihat sesuatu yang diharamkan tanpa sengaja, hendaklah ia memalingkan pandangan matanya dengan segera darinya.
Imam Ath Thabrani meriwayatkan dari Abdullah ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:
“Sesungguhnya Pandangan mata itu adalah sepucuk anak panah iblis yang beracun. Barang siapa yang menahannya karena takut kepadaKu, niscaya Aku menggantinya dengan iman yang kemanisannya ia rasakan dalam hatinya.”
Sumber: Madrasatuna
[Sdz]





