HAMPIR setiap orang pernah menyimpan harapan yang sama: ingin dimengerti oleh orang yang dicintai. Kita berharap perhatian dibalas dengan perhatian, ketulusan dibalas dengan ketulusan, dan cinta yang kita berikan kembali dalam kadar yang sama. Rasanya wajar, karena hati manusia memang diciptakan untuk mencintai dan ingin dicintai.
Namun, kehidupan sering mengajarkan kenyataan yang berbeda. Manusia bisa berubah. Hari ini seseorang begitu dekat, esok ia mungkin memilih menjauh. Hari ini ia memahami setiap luka kita, besok justru menjadi orang yang paling mengecewakan. Bukan karena semua manusia buruk, tetapi karena hati manusia berada dalam genggaman Allah dan dapat berubah sewaktu-waktu.
Baca Juga: Daun Suji Bukan Sekadar Pewarna Alami Ini Potensi Manfaatnya untuk Kesehatan
Saat Balasan Terbaik Bukan Datang dari Manusia
Di sinilah letak ujian terbesar dalam mencintai. Ketika kita menggantungkan seluruh kebahagiaan kepada manusia, maka kekecewaan akan mudah datang. Sebab manusia memiliki keterbatasan. Ia bisa lupa, lelah, salah paham, bahkan pergi tanpa mampu kita cegah.
Lalu kepada siapa seharusnya hati ini bergantung?
Allah mengajarkan bahwa sebaik-baik balasan adalah balasan yang datang dari-Nya. Ketika cinta kita kepada seseorang dibalas dengan luka, bukan berarti seluruh ketulusan menjadi sia-sia. Bisa jadi Allah sedang mengangkat hati kita agar belajar mencintai dengan cara yang lebih tinggi, yaitu mencintai karena Allah.
Mencintai karena Allah membuat kita tidak mudah hancur ketika manusia berubah. Kita tetap berbuat baik meski tidak selalu dihargai, tetap mendoakan meski tidak selalu dibalas, dan tetap menjaga akhlak meski hati sedang terluka. Sebab tujuan akhirnya bukan sekadar mendapatkan balasan dari manusia, melainkan mencari ridha Allah.
Kekecewaan sering kali menjadi guru yang lembut. Ia mengajarkan bahwa tidak semua harapan harus dititipkan kepada makhluk. Ada ruang dalam hati yang hanya bisa diisi oleh hubungan yang kuat dengan Rabb semesta alam. Ketika hubungan itu kokoh, kehilangan manusia tidak lagi menghancurkan seluruh hidup kita.
Bukan berarti kita berhenti mencintai sesama. Islam justru mengajarkan kasih sayang, silaturahmi, dan perhatian kepada orang lain. Hanya saja, jangan jadikan manusia sebagai sumber kebahagiaan yang mutlak. Karena jika manusia berubah, kita masih memiliki Allah yang tidak pernah berubah kasih sayang-Nya.
Hari ini mungkin ada doa yang belum dijawab, cinta yang tak terbalas, atau hubungan yang terasa retak. Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah meninggalkanmu. Bisa jadi Dia sedang mengarahkan hatimu kepada cinta yang paling abadi.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Sebab ketika Allah menjadi tujuan utama, setiap kehilangan akan diganti dengan ketenangan. Dan ketika balasan terbaik datang dari-Nya, tidak ada satu pun kebaikan yang benar-benar hilang. Semua ketulusan akan kembali, mungkin bukan melalui orang yang sama, tetapi melalui cara yang paling indah menurut kehendak Allah. [DW]





