SETIAP manusia tentu pernah melakukan kesalahan. Ada dosa yang disadari sejak awal dan ada pula perbuatan keliru yang baru terasa setelah hati mulai merenung. Terkadang kita begitu mudah meminta berbagai hal kepada Allah. Kita memohon kelancaran rezeki serta kesehatan dan kebahagiaan. Namun di tengah kesibukan mengejar keinginan tersebut kita justru sering lupa memohon ampun atas dosa-dosa yang telah dilakukan.
Padahal tidak ada manusia yang terbebas dari kesalahan. Lisan bisa saja mengucapkan perkataan yang melukai orang lain. Mata terkadang melihat sesuatu yang tidak seharusnya. Hati dapat dipenuhi iri dan prasangka buruk. Bahkan langkah kaki mungkin pernah membawa kita menuju perbuatan yang menjauhkan diri dari Allah.
Karena itu memohon ampun bukan sekadar ucapan yang dilafalkan setelah salat. Istigfar seharusnya menjadi bagian dari kehidupan seorang Muslim sebagai bentuk kesadaran bahwa manusia selalu membutuhkan rahmat dan ampunan Allah.
Baca Juga: Benarkah Stevia Bermanfaat untuk Menjaga Kesehatan Tubuh?
Mengapa Kita Tidak Boleh Menunda Taubat dan Memohon Ampunan kepada Allah?
1. Setiap Manusia Membutuhkan Ampunan Allah
Tidak peduli seberapa baik seseorang terlihat di hadapan manusia. Setiap orang memiliki kekurangan dan pernah melakukan kesalahan. Ada dosa yang terlihat oleh orang lain dan ada pula yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri serta Allah.
Dalam Surah Az-Zumar ayat 53 Allah SWT berfirman agar hamba-hamba-Nya tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Allah mengingatkan bahwa Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa sebesar apa pun dosa seseorang pintu taubat tetap terbuka selama ia bersungguh-sungguh kembali kepada Allah. Jangan sampai rasa malu atau merasa terlalu banyak melakukan kesalahan membuat seseorang justru menjauh dari ampunan-Nya.
Sebaliknya kesadaran atas dosa seharusnya mendorong kita untuk segera memperbaiki diri.
2. Menjaga Lisan dari Perkataan yang Menyakiti
Salah satu anggota tubuh yang sering menjerumuskan manusia ke dalam dosa adalah lisan. Melalui ucapan seseorang dapat menyampaikan kebaikan. Namun melalui lisan pula seseorang bisa menyakiti perasaan orang lain.
Ghibah dan fitnah merupakan contoh perbuatan yang perlu dihindari. Begitu pula kebiasaan merendahkan orang lain serta mengucapkan kata-kata kasar ketika sedang marah.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berkata baik atau diam. Pesan ini diriwayatkan dalam hadis sahih Bukhari dan Muslim.
Oleh karena itu kita perlu membiasakan diri berpikir sebelum berbicara. Jangan sampai perkataan yang dianggap bercanda justru meninggalkan luka bagi orang lain. Jika pernah menyakiti seseorang maka berusahalah meminta maaf dan memperbaiki hubungan dengannya.
3. Membersihkan Hati dari Iri dan Buruk Sangka
Dosa tidak selalu muncul melalui tindakan yang terlihat. Terkadang kesalahan justru tumbuh di dalam hati tanpa disadari.
Rasa iri ketika melihat keberhasilan orang lain dan kebiasaan berprasangka buruk dapat membuat hati kehilangan ketenangan. Kita menjadi sibuk membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain hingga lupa mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah.
Padahal setiap manusia memiliki perjalanan dan ujian masing-masing. Apa yang terlihat menyenangkan dari kehidupan orang lain belum tentu menggambarkan seluruh kenyataan.
Belajarlah mendoakan kebaikan bagi sesama Muslim. Ketika melihat orang lain mendapatkan rezeki atau kebahagiaan cobalah ikut bersyukur dan percaya bahwa Allah juga memiliki ketetapan terbaik bagi kehidupan kita.
4. Jangan Meremehkan Dosa Kecil
Terkadang seseorang merasa tidak melakukan dosa besar sehingga menganggap kesalahannya sebagai sesuatu yang biasa. Padahal kebiasaan meremehkan dosa dapat membuat seseorang semakin jauh dari kesadaran untuk bertaubat.
Perkataan yang tidak baik mungkin dianggap sepele. Melalaikan ibadah bisa terasa biasa karena dilakukan berulang kali. Bahkan kebiasaan menunda kewajiban terkadang tidak lagi menimbulkan rasa bersalah.
Seorang Muslim perlu berhati-hati terhadap kebiasaan tersebut. Jangan menunggu sampai melakukan kesalahan besar untuk mulai memperbaiki diri.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa setiap manusia adalah tempat salah dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat. Hadis ini diriwayatkan oleh Tirmidzi.
5. Jangan Menunda Taubat karena Merasa Masih Memiliki Waktu
Salah satu godaan manusia adalah merasa masih memiliki banyak kesempatan. Kita sering berpikir bahwa taubat bisa dilakukan nanti ketika usia bertambah atau ketika kehidupan sudah lebih tenang.
Padahal tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajal akan datang. Kesempatan untuk memperbaiki diri bukan sesuatu yang dapat dipastikan selalu tersedia.
Taubat sebaiknya dilakukan sesegera mungkin. Caranya dengan menyesali kesalahan dan berhenti melakukan dosa tersebut. Seseorang juga perlu memiliki tekad untuk tidak mengulanginya. Jika kesalahan berkaitan dengan hak orang lain maka hak tersebut perlu dikembalikan atau diselesaikan dengan meminta maaf.
6. Belajar Bersyukur dan Mengandalkan Pertolongan Allah
Manusia sering kali begitu bersemangat meminta sesuatu kepada Allah tetapi lupa mensyukuri nikmat yang sudah diterima. Kita meminta kesehatan tetapi terkadang mengabaikan kesempatan beribadah. Kita memohon kelapangan rezeki tetapi lupa berbagi dengan sesama.
Padahal syukur merupakan bagian penting dari keimanan. Dalam Surah Ibrahim ayat 7 Allah menjanjikan tambahan nikmat bagi hamba-Nya yang bersyukur.
Kita juga perlu memahami bahwa ikhtiar bukan berarti hanya mengandalkan kemampuan diri sendiri. Berusaha tetap penting tetapi hati harus senantiasa bergantung kepada pertolongan Allah.
Pada akhirnya hidup adalah perjalanan untuk terus memperbaiki diri. Jangan merasa terlalu suci untuk beristigfar dan jangan pula merasa terlalu berdosa untuk kembali kepada Allah. Selagi masih diberikan kesempatan bernapas mari memperbanyak istigfar serta menjaga lisan dan membersihkan hati.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita yang disadari maupun tidak disadari. Semoga Dia membimbing setiap langkah kita agar tidak kembali terjerumus dalam kesalahan yang sama. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. [DW]
Sumber: Ustadzah Oki Setiana Dewi





