I’M NOBODY. Aku bukan siapa-siapa. Aku bukan apa-apa. Aku hanya hamba Allah yang berusaha hidup ikhlas.
Sejarah penciptaan manusia menemukan suatu sosok yang awalnya begitu mulia. Ia adalah Azazil. Makhluk yang berjenis jin dan pernah digelari sayyidul malaikat.
Ia begitu taat beribadah kepada Allah. Tidak main-main, Azazil beribadah selama ratusan ribu tahun. Kemuliaan dan ketakwaannya meninggikan posisinya di mata para malaikat.
Hingga suatu hari, Allah mengabarkan bahwa akan menciptakan seorang khalifah di muka bumi. Ia bukan dari malaikat, bukan dari jin, melainkan dari jenis manusia. Namanya Adam.
Saat inilah Azazil mulai gusar. Apa kemuliaan Adam sehingga Allah sangat memuliakannya. Ia pun menyelidiki.
Dari semua yang ia ketahui, Azazil tak menemukan kemuliaan dari Adam. Bahkan materi penciptaannya tergolong dari unsur yang rendah, lemah, dan hina.
Dan tibalah saatnya. Ketika Adam sempurna Allah ciptakan sebagai sosok baru di alam raya ini, Allah perintahkan para malaikat termasuk Azazil untuk ‘bersujud’ kepada Adam.
Inilah puncak dari rasa kecewanya. Ia menolak ‘bersujud’. Padahal, seluruh malaikat telah bersujud.
“Kenapa?” seperti itulah pertanyaan dari Allah subhanahu wata’ala.
“Aku lebih baik dari dia. Engkau ciptakan aku dari api, sementara Engkau ciptakan dia dari tanah,” jawab Azazil.
Sejak itu, Azazil tak lagi bernama Azazil. Namanya berubah menjadi Iblis. Dari yang sebelumnya mulia, ia menjadi yang terkutuk selamanya. Dari yang sebelumnya digelari sayyidul malaikat menjadi makhluk yang paling hina dan ingkar.
Apakah dramanya sudah selesai? Ternyata belum. Iblis mengambil posisi lain. Kalau sebelumnya ia mengambil posisi sombong, setelah menjadi hina, ia menjadi hasad.
Ia bersumpah untuk menjerumuskan seluruh anak keturunan Adam menjadi pengikutnya yang sama-sama hina dan ingkar.
**
Anugerah kemuliaan itu ternyata begitu berat. Apa pun jenis kemuliaan itu. Illa man rahima rabbi, kecuali mereka yang Allah berikan perlindungan.
Ketika seseorang merasa pada posisi mulia, ia akan menuntut semua orang memuliakannya: tak boleh ada yang menghina, tak mau membaur dengan semua orang, apa yang ia ucapkan harus selalu dianggap benar, dan seterusnya.
Apakah orang seperti ini hidup dalam ketenangan? Sama sekali tidak. Ia selalu ‘dihantui’ oleh bayang-bayang kerendahan dirinya sendiri.
Jadilah seperti orang yang I’m Nobody. Aku bukan siapa-siapa. Ia tidak merasa orang lain sebagai saingan. Ia tidak pernah merasa direndahkan meskipun orang lain melakukannya.
Ia hanya peduli dengan pandangan Allah terhadap dirinya. Bukan pandangan orang lain terhadapnya. [Mh]




