TIDAK semua pilihan dalam hidup akan membuat kita diterima oleh orang lain. Ada kalanya mempertahankan keyakinan justru membuat kita terlihat berbeda. Ketika orang lain memilih mengikuti arus, kita mungkin harus berhenti dan bertanya kepada diri sendiri apakah sesuatu yang sedang ramai dilakukan memang sesuai dengan nilai yang kita yakini.
Di zaman ketika berbagai hal begitu mudah dilihat dan diikuti melalui media sosial, mempertahankan prinsip memang membutuhkan keberanian. Ada banyak hal yang dikemas sebagai tren, kebebasan, atau bagian dari kehidupan modern. Namun, sebagai seorang Muslim, tidak semua sesuatu yang populer harus diikuti.
Baca Juga: Ini Dia Penyebab Susah Tidur dan Tips Menghilangkan Insomnia
Ketika Memegang Prinsip Membuat Beragam Perbedaan
Kisah Nabi Yusuf a.s. memberikan pelajaran tentang keteguhan memegang prinsip. Ketika berada dalam situasi yang sangat sulit, beliau memilih menjaga dirinya dan menaati Allah meskipun pilihan tersebut memiliki konsekuensi berat. Nabi Yusuf tidak memilih jalan yang mudah hanya demi mendapatkan penerimaan atau terbebas dari masalah.
Dari kisah tersebut kita belajar bahwa kebenaran tidak selalu menjadi pilihan yang paling nyaman.
Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin bentuk ujiannya berbeda. Bisa berupa ajakan teman, lingkungan pergaulan, kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran agama, atau tekanan untuk mengikuti sesuatu hanya karena takut dianggap berbeda.
Pada titik seperti itu, seorang Muslim perlu memiliki pegangan. Bukan berarti harus merasa lebih baik daripada orang lain, apalagi sibuk menghakimi kehidupan seseorang. Memegang prinsip agama justru seharusnya berjalan bersama akhlak yang baik.
Kita boleh memiliki keyakinan dan batasan berdasarkan ajaran agama. Kita boleh mengatakan tidak terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan prinsip yang kita pegang. Namun, penolakan terhadap suatu pandangan atau perilaku tidak memberikan alasan untuk menghina, mempermalukan, merendahkan, atau menyakiti orang lain.
Keteguhan iman tidak membutuhkan kebencian. Justru semakin kuat seseorang memegang ajaran agama, seharusnya semakin baik pula cara ia memperlakukan sesama. Perbedaan keyakinan, pandangan, atau pilihan hidup tidak harus disikapi dengan permusuhan.
Nabi Yusuf a.s. juga mengajarkan bahwa manusia tidak seharusnya terlalu percaya diri dengan kekuatan dirinya sendiri. Ketika menghadapi godaan dan ujian, pertolongan Allah tetap menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan.
Karena itu, jangan hanya mengatakan, “Aku pasti kuat dan tidak akan terpengaruh.” Lebih baik menghadirkan kerendahan hati dalam doa. Memohon agar Allah menjaga hati, menguatkan iman, dan memberikan kemampuan untuk tetap berada di jalan yang diyakini benar.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Sebab mempertahankan iman bukan tentang membuktikan bahwa kita lebih baik daripada orang lain. Ini tentang menjaga hubungan kita dengan Allah.
Ada kalanya dunia bergerak ke arah yang berbeda dari prinsip yang kita pegang. Saat itu terjadi, kita tidak perlu membenci siapa pun. Kita cukup menjaga hati, menjaga akhlak, dan tetap berjalan dengan keyakinan bahwa ketaatan kepada Allah adalah pilihan yang ingin kita pertahankan. [DW]
Sumber: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj




