ALLAH SWT mengabadikan kisah Nabi Nuh AS ketika memanggil anaknya di tengah peristiwa banjir besar. Dalam kondisi yang penuh kepanikan, Nabi Nuh tetap berusaha mengajak anaknya untuk naik ke kapal agar selamat dari azab Allah. Kisah ini tertuang dalam Al-Qur’an surah Hud ayat 42.
يٰبُنَيَّ ارْكَبْ مَّعَنَا وَلَا تَكُنْ مَّعَ الْكٰفِرِيْنَ
Artinya, “Wahai anakku, naiklah bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.”
Ada satu hal yang menarik dari ayat tersebut, yaitu panggilan Nabi Nuh kepada anaknya dengan ungkapan yā bunayya. Kalimat ini mengandung kelembutan dan kasih sayang seorang ayah kepada anaknya. Di tengah situasi yang genting, Nabi Nuh tidak kehilangan kelembutan ketika berbicara kepada buah hatinya.
Baca Juga: Pada Akhirnya Hidup Adalah Tentang Doa dan Takdir
Belajar Menjadi Orang Tua yang Lembut dari Kisah Nabi Nuh AS
Padahal, anak Nabi Nuh memilih untuk tidak mengikuti ajakannya. Ia menolak kebenaran dan merasa bisa menyelamatkan diri dengan berlindung di gunung. Namun, Nabi Nuh tetap berusaha mengingatkan anaknya agar tidak terjerumus dalam kebinasaan.
Dari kisah ini, kita dapat belajar bahwa kasih sayang orang tua kepada anak tidak seharusnya hilang hanya karena anak melakukan kesalahan atau menolak nasihat. Justru ketika anak berada dalam situasi yang keliru, mereka membutuhkan bimbingan, arahan, dan kasih sayang dari orang tuanya.
Tegas Bukan Berarti Harus Membentak
Dalam kehidupan sehari-hari, mendidik anak tentu bukan perkara mudah. Ada kalanya anak sulit dinasihati, membantah perkataan orang tua, atau mengambil keputusan yang bertentangan dengan nilai-nilai keluarga. Situasi seperti ini sering kali memancing emosi, terutama ketika orang tua merasa khawatir terhadap masa depan anaknya.
Namun, orang tua perlu memahami bahwa ketegasan tidak harus disampaikan dengan bentakan atau kata-kata yang menyakitkan. Anak tetap perlu mengetahui batasan antara perilaku yang benar dan salah. Akan tetapi, cara menyampaikan nasihat juga memiliki peran penting dalam membangun hubungan yang sehat antara orang tua dan anak.
Perkataan yang lembut dapat membantu anak merasa dihargai dan lebih terbuka untuk mendengarkan. Sebaliknya, ucapan kasar yang terus-menerus diterima anak berisiko membuatnya merasa tidak dipahami.
Kisah Nabi Nuh mengajarkan bahwa orang tua harus tetap berpegang pada prinsip kebenaran tanpa kehilangan kelembutan dalam berkomunikasi. Kasih sayang bukan berarti membenarkan semua tindakan anak, melainkan tetap mendampinginya ketika ia melakukan kesalahan.
Tujuan Nasihat Adalah Menyelamatkan Anak
Nabi Nuh tidak sekadar ingin memenangkan perdebatan dengan anaknya. Beliau berusaha menyelamatkan anak yang dicintainya. Sayangnya, anak tersebut tetap memilih jalannya sendiri dan akhirnya tenggelam bersama orang-orang yang ingkar.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik dan mengarahkan anak, tetapi tidak dapat memaksakan hidayah kepada siapa pun. Orang tua perlu terus berusaha, memberikan teladan, menyampaikan nasihat dengan baik, serta mendoakan anak agar senantiasa berada di jalan Allah SWT.
Pada akhirnya, mendidik anak bukan tentang siapa yang paling berkuasa atau siapa yang selalu menang dalam pertengkaran. Pendidikan adalah proses panjang untuk menuntun anak mengenali kebenaran dengan penuh kesabaran.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Semoga kita dapat menjadi orang tua yang tegas dalam menjaga prinsip, tetapi tetap lembut dalam bertutur kata. Jangan sampai kesalahan anak membuat kita berhenti mencintainya. Sebab, salah satu bentuk kasih sayang terbesar orang tua adalah terus berusaha membimbing anak menuju kebaikan.
Allahu a’lam bishawab.
Sumber: Ustadzah Dr. Eko Yuliarti Siroj





