KEBERADAAN komorbid dapat meningkatkan risiko ketika seseorang terinfeksi super flu. pasien yang terpapar influenza tipe A (H3N2) subclade K meninggal dunia dengan disertai penyerta atau komorbid, seperti stroke, gagal jantung, dan gangguan ginjal.
Kombinasi superflu dengan penyakit bawaan inilah yang dianggap menjadi faktor penentu memburuknya kondisi pasien.
Secara umum, kelompok komorbid dibagi menjadi tiga, yakni karena usia, karena penyakit kronis, karena kondisi tertentu.
Baca juga: Super Flu Varian Influenza A (H3N2) Subclade K Terdeteksi di Sejumlah Negara, Termasuk Indonesia
Keberadaan Komorbid bisa Tingkatkan Risiko Keparahan Super Flu
Dari usia dan penyakit kronis
Dari sisi usia, kelompok berumur lebih dari 65 tahun menunjukkan risiko 70-80 persen lebih tinggi mengalami flu berat.
Lebih-lebih bila faktor usia disertai juga faktor penyakit kronis seperti asma, diabetes, stroke, penurunan fungsi ginjal dan penyakit jantung.
Risiko serupa juga bisa terjadi pada kelompok usia anak-anak. Laporan pada tahun 2022, komorbid pada anak kurang dari 18 tahun adalah asma, diikuti dermatitis atopik, dan penyakit metabolik endokrin.
Kondisi khusus
Selain usia dan penyakit kronis, sejumlah kondisi khusus turut memperberat dampak infeksi flu. Kondisi khusus yang dimaksud seperti kehamilan, obesitas, dan penurunan fungsi imun.
Soal kemunculan superflu yang belakangan ini jadi perbincangan, karakteristik yang paling menonjol adalah daya tularnya lebih cepat. Kondisi tersebut menambah faktor risiko, terutama jika terjadi pada orang dengan komorbid.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Penjelasan di atas merupakan gambaran umum mengenai risiko pasien komorbid yang terinfeksi flu. Namun, untuk memudahkan pemahaman masyarakat mengenai hal ini, mengibaratkan kondisi ini dengan situasi pada masa pandemi Covid-19.
Infeksi virus dengan komorbid dapat dianalogikan sebagai titik api pada sebatang kayu.
Artinya, dalam keadaan normal mungkin kondisi itu masih bisa dikendalikan. Namun, siraman “minyak” komorbid bisa memperparah “kobaran api” infeksi virus, baik Covid-19 maupun superflu. [Din]



