ADA satu ayat yang rasanya perlu sering dibaca oleh para orang tua, terutama ketika kita sedang begitu serius memikirkan masa depan anak-anak kita. Ayat ke 56 dari Al-Qur’an Surat Al-Qoshos.
Ayat ini turun berkenaan dengan seseorang yang sangat dicintai Rasulullah. Bahkan manusia semulia Rasulullah pun tidak memiliki kuasa untuk memasukkan hidayah ke dalam hati seseorang. Hidayah adalah wilayah penuh kekuasaan Allah.
Baca Juga: Kisah Teladan Hudzafah Binti Harits, Saudari Rasulullah dari Persusuan
Batasan kepada Anak dalam Berikhtiar Sebagai Orang Tua
Sebagai orang tua, kita tentu ingin anak-anak kita menjadi saleh, cerdas, unggul, sukses, dan membanggakan. Karena cinta, kita memilihkan sekolah terbaik, mengajarkan Al-Qur’an, mencarikan lingkungan yang baik, mengatur pergaulannya, bahkan menyusun masa depannya. Semua itu adalah ikhtiar yang mulia. Tetapi diam-diam ada bahaya yang perlu kita waspadai: jangan sampai kesungguhan mendidik anak membuat kita merasa bahwa kitalah yang membentuk anak-anak kita. Seakan jika metode kita benar, sekolahnya tepat, pengasuhannya sempurna, maka hasilnya pasti seperti yang kita harapkan.
QS. Al-Qashash ayat 56 mengembalikan hati orang tua kepada tempatnya. Tugas kita mendidik, tetapi Allah yang memberi hidayah. Kita menanam, Allah yang menumbuhkan. Kita menunjukkan jalan, Allah yang membukakan hati untuk mencintai jalan itu. Bahkan kesalehan anak bukanlah piala keberhasilan orang tua. Ia adalah karunia Allah yang sangat besar. Karena itu, semakin sungguh-sungguh kita mendidik anak, seharusnya semakin rendah hati kita di hadapan-Nya.
Maka iringilah kesibukan menyusun strategi pendidikan anak, dengan memperbanyak mengetuk pintu langit untuknya. Ada saatnya nasihat kita tidak lagi didengar, pengawasan kita tidak lagi menjangkau, dan tangan kita tidak mampu menjaganya. Tetapi Allah selalu dapat menjangkaunya. Barangkali itulah sebabnya doa Nabi Ibrahim begitu indah: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat.” (QS. Ibrahim: 40). Seorang nabi pun memohon kepada Allah untuk kesalehan keturunannya.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Anak-anak kita pada akhirnya bukanlah proyek ambisi kita. Mereka adalah amanah Allah yang sedang kita antarkan menuju takdir kehidupannya. Didiklah sebaik-baiknya, cintailah sepenuh hati, berikan teladan terbaik, tetapi jangan menggenggam hasilnya terlalu erat. Setelah semua ikhtiar dilakukan, bisikkanlah dalam doa: “Ya Allah, aku telah berusaha menjaganya dengan segala keterbatasanku. Kini jagalah ia dengan penjagaan-Mu. Bentuklah hatinya dengan hidayah-Mu. Sebab aku adalah orang tuanya, tetapi Engkaulah Pemilik hatinya.” [DW]
Sumber: Ustadzah Eko Yuliarti





