DALAM proses pengasuhan dan hubungan keluarga, dikenal istilah “utang pengasuhan” yang merujuk pada dampak dari kurangnya pemenuhan kebutuhan emosional atau pembinaan di masa lalu.
Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi sikap dan perilaku seseorang ketika dewasa, termasuk dalam hal keberanian, kemandirian, dan tanggung jawab.
Dikutip dari Fatherman bahwa upaya memperbaiki kondisi tersebut tidak selalu efektif jika hanya dilakukan melalui nasihat atau ceramah yang berulang.
Terlalu banyak memberikan kritik atau penilaian verbal justru dinilai dapat memperburuk kondisi psikologis dan tidak menyelesaikan akar masalah.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Sebagai contoh, dalam dinamika rumah tangga, ketika seorang suami dinilai kurang memiliki keberanian atau inisiatif dalam mengambil peran, pendekatan yang terlalu banyak menegur secara lisan dianggap kurang efektif.
Sebaliknya, pendekatan yang lebih dianjurkan adalah melalui tindakan langsung atau “hands on”.
Pendekatan ini dilakukan dengan melibatkan pasangan secara aktif dalam aktivitas nyata, bukan sekadar memberikan arahan atau kritik.
Ketahui Cara Terbaik Membayar Utang Pengasuhan
Misalnya, memberikan dukungan konkret dalam kegiatan sehari-hari seperti usaha kecil, dengan mendampingi secara langsung tanpa banyak menghakimi.
Contoh lain, seorang istri dapat mengatakan, “Untuk kali ini, ayah yang bertanggung jawab. Saya akan menemani,” sebagai bentuk dukungan sekaligus dorongan agar pasangan lebih berani mengambil peran.
Pendekatan ini menekankan kerja sama dan pendampingan dalam proses perubahan.
Baca juga: Waspada “Hutang Pengasuhan”, Pola Asuh Masa Kecil Dapat Mempengaruhi Perilaku Anak
Konsep ini sejalan dengan prinsip “talk less do more”, yaitu mengurangi banyaknya kata-kata dan lebih menekankan pada tindakan nyata.
Dengan cara ini, perubahan diharapkan dapat terjadi secara bertahap melalui pengalaman langsung, bukan hanya melalui instruksi verbal.
Pendekatan berbasis tindakan dianggap lebih efektif dalam membantu seseorang membangun kepercayaan diri dan tanggung jawab, sekaligus memperbaiki dinamika hubungan dalam keluarga secara lebih sehat dan konstruktif.[Sdz]





