• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Sabtu, 29 Agustus, 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Berita

Bugil Bukan Seni

10/03/2020
in Berita
79
SHARES
607
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

oleh: Yons Achmad (Pemerhati Kebudayaan, tinggal di Depok)

ChanelMuslim.com – Seni itu subyektif. Hal ini yang membuat siapapun merasa berhak melakukan apapun. Seolah seni bisa melakukan apa saja, termasuk di dalamnya seni untuk seni. Membuat siapapun tidak berhak menggugat, melakukan penghakiman. Termasuk misalnya, orang berfoto bugil (telanjang) atau membuat lukisan bugil sejenis. Sebelum banyak orang komentar, “Seniman” sudah berfatwa “Bukan selangkanganku yang salah, tapi otak lu yang ngeres”.

Ada kasus“kreatif”, seorang perempuan, dikenal figur publik, berfoto bugil dengan pesan untuk mencintai dan menghargai tubuhnya sendiri. Ketika banyak orang mengkritik, beberapa orang langsung dicap “kadrun” alias kadal gurun. Berpikir konservatif, menjadi polisi moral, membawa-bawa agama, padahal itu kampanye positif, bukan pornografi tapi seni dsb.

Tapi, bagaimana sikap mereka itu terhadap para pemakai cadar. Ramai-ramai dihakimi. Memakai cadar dihakimi sebagai orang yang tak merdeka, terkekang pemahaman sempit agama. Padahal, bagaimana kalau itu hadir sebagai bentuk lain dari penghargaan tubuh mereka? Di sini, logika penghargaan dan pesan mencintai tubuh sendiri menjadi hambar. Kenapa? Yang pertama, berhak bugil karena logika tubuh mereka sendiri, hanya berdasarkan logika dengan spirit kebebasan sekuler Barat. Yang kedua memakai cadar sebagai pilihan sadar atas dasar pemahaman keagamaan yang mereka yakini. Juga sebagai bentuk penghargaan atas tubuhnya sendiri. Sayangnya, orang sering menerapkan standar ganda. Seolah yang pertama lebih baik, padahal sebaliknya.

Dari kasus, ini saya jadi teringat pengamatan Prof. Dr. Abdul Hadi (2016) dalam buku “Cakrawala Budaya Islam” ketika menyoal “Islam dan Seni Rupa Kontemporer”. Menurutnya, sebuah karya seni yang baik memberikan penikmatnya suasana meditatif (tafakur) dan pada saat yang sama menyajikan pencerahan (kasyf) kepada kalbu kita. Sementara, seni apa yang tak bisa diterima? Unsur-unsur yang membawa kepada syirik, nihilisme, pemujaan suatu kelas tertentu, suku atau ras tertentu, fetisyisme palsu, hedonisme material, pemutarbalikan sejarah wahyu dan kenabian serta pengingkaran terhadap hal-hal yang bersifat metafisis dan eksatologis.

Jadi, dari sini apakah bugil dalam foto atau lukisan bisa disebut seni? Dengan berdalih subyektivitas mungkin bisa disebut seni. Tapi, itu adalah seni paling buruk. Foto bugil, siapa yang bisa membuatnya? Semua orang. Hanya mereka yang kurang waras saja yang kemudian memublikasikan dan menganggapnya seni. Hasilnya apa? Seni kemudian menjadi rendah derajatnya. Lagi pula, tak semua orang tergiur foto bugil. Ahmad Tohari, seorang sastrawan Banyumas pernah berkelakar tentang kecantikan wanita. Bagi seorang sufi, melihat kecantikan perempuan sama halnya dengan seonggok daging belaka. Ini tentu bukan merendahkan, tapi sebuah penglihatan yang dalam untuk tak tergoda dengan semua hal yang sifatnya materi, duniawi.

Pada akhirnya, ketika bicara seni. Atau lebih khususnya seni Islam, kita akan kembali kepada persoalan paling dasar. Seperti tujuan Islam itu sendiri, membawa penganutnya dari kegelapan menuju cahaya tauhid. Perjuangan dari kegelapan menuju cahaya ini yang kemudian disebut dengan pencerahan. Pencerahan seperti apa? Dari “Yang Banyak” menuju “Yang Satu”. Dari yang sifatnya sementara menuju yang kekal dan abadi.

Dalam apresiasi seni juga begitu. Kita mungkin pernah terpesona oleh lukisan yang bagus, sastra yang menjulang, arsitektur yang megah. Pemuja seni untuk seni barangkali hanya sampai kepada penghargaan terhadap obyek itu, termasuk manusia yang menciptanya. Tapi, sebenarnya siapa “Yang Satu”. Yang menciptakan manusia? Inilah pemahaman akan seni profetik (berbasis kenabian) yang kita maknai. Yang membawa manusia ketika berkesenian, berkebudayaan pada akhirnya menjadikan mereka selalu mengingat-Nya. [ind]

Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

TASK Hidayatullah Lakukan Evakuasi, Distribusi Logistik dan Layanan Kesehatan di Bolaang Mongondow

Next Post

Didukung Kemenperin, Inilah Rangkaian Karya Desainer di Ajang Muffest 2020

Next Post

Didukung Kemenperin, Inilah Rangkaian Karya Desainer di Ajang Muffest 2020

Pagi Hari Sehat dengan Sajian Salad Buah ala Della Suzura

Miris, Masih Ada Wilayah di Kabupaten Tangerang Tanpa Listrik

  • 5 Style Gamis untuk Kajian yang Sopan dan Tetap Stylish

    5 Style Gamis untuk Kajian yang Sopan dan Tetap Stylish

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • 124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    9198 shares
    Share 3679 Tweet 2300
  • Pagelaran Fashion Muslim Modest Wear Ramadan in Style

    741 shares
    Share 296 Tweet 185
  • 5 Nama Potongan Rambut Pria agar Tidak Qaza`

    1962 shares
    Share 785 Tweet 491
  • Doa Ibu yang Mengubah Nasib Anak

    4160 shares
    Share 1664 Tweet 1040
  • Doa Rabithah dan Keutamaan Membacanya

    2440 shares
    Share 976 Tweet 610
  • Ayat Al-Qur’an tentang Traveling

    1246 shares
    Share 498 Tweet 312
  • Doa untuk Palestina Lengkap beserta Artinya

    2375 shares
    Share 950 Tweet 594
  • 5 Destinasi Brunei yang Wajib Masuk Daftar Liburan

    67 shares
    Share 27 Tweet 17
  • Hukum Membakar Pakaian Bekas

    11718 shares
    Share 4687 Tweet 2930
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga