PELOPOR kebaikan itu sangat istimewa. Meskipun begitu, jarang yang mau karena begitu beratnya.
Sebagian kita mungkin bertanya-tanya, siapakah orang Madinah pertama yang masuk Islam? Jauh sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah.
Ya, sahabat mulia itu adalah As’ad bin Zurarah radhiyallahu ‘anhu. Beliau merupakan sahabat dari kalangan Khazraj. Ada satu lagi yang ikut mendampingi beliau, yaitu Zaqwan bin Abu Qais radhiyallahu ‘anhu
Awalnya, As’ad mendengar kabar dari tetangga mereka kalangan Yahudi bahwa Nabi terakhir sebentar lagi akan diutus. Orang-orang Yahudi itu membangga-banggakan diri mereka bahwa Nabi itu akan menjadi bagian dari kalangan Yahudi.
As’ad pun penasaran dengan kabar tentang Nabi itu. Ia mencari-cari berita. Sebagian kabar menyebut kalau Nabi itu berasal dari Mekah. Bersama dengan Zaqwan, As’ad pun berangkat menuju Mekah untuk bertanya-tanya dengan para tokoh di sana.
Sebelum tiba di Mekah, As’ad sudah punya keputusan untuk bertanya kepada tokoh yang mana. Ia akan berbicara dengan Utbah bin Rabi’ah. Tapi, hal itu urung, karena setibanya di Mekah, As’ad dan Zaqwan bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Menerima Islam
As’ad dan Zaqwan begitu bahagia bisa bertemu dengan Nabi. Nabi pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Nabi mengajarkan kepada keduanya hal-hal tentang Islam. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga membacakan ayat-ayat Al-Qur’an.
As’ad dan Zaqwan begitu tersentuh. Mereka tidak menyangka kalau Rasulullah jauh lebih istimewa dari yang mereka kira. Awalnya, hanya ingin mendahului kaum Yahudi di Madinah, justru kedunya ingin berjuang menyebarkan Islam ke seluruh warga Madinah.
As’ad begitu aktif menyebarkan Islam ke warga Madinah. Beberapa lama setelah itu, sudah terkumpul sekitar 70 orang yang siap mendukung dakwah Nabi di Madinah. Mereka pun ingin menemui Nabi di Mekah untuk melakukan sumpah setia atau baiat.
Setelah menyampaikan baiat di Aqabah dengan Nabi, mereka pun mendapatkan semangat baru untuk menyebarkan Islam. Nabi memberikan pendampingan kepada mereka dengan mengutus bersama mereka seorang yang bisa mengajarkan Islam, yaitu Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu.
Setibanya di Madinah, As’ad mempersilakan Mush’ab tinggal di rumahnya. Segala keperluan tamu dan sekaligus gurunya itu ia penuhi dengan baik. Bahkan, di semua dakwah yang dilakukan Mush’ab kepada warga Madinah, selalu didampingi As’ad.
Meski dari suku Khazraj, As’ad juga saudara sepupu dengan pemimpin suku Aus: Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu. Saat itu, Sa’ad belum masuk Islam.
Sa’ad memantau gerak-gerik sepupunya itu. Ia pun memanggil teman satu levelnya: Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu, beliau pun saat itu belum masuk Islam.
“Perhatikanlah, kedua orang itu sedang mempengaruhi warga kita yang lemah. Kalau bukan karena ia sepupuku, aku sudah mencegahnya,” ucap Sa’ad kepada Usaid agar Usaid mencegah dakwah As’ad dan Mush’ab.
Usaid itu mengambil tombak dan berjalan menuju ke arah As’ad dan Mush’ab yang sedang dikelilingi warga untuk mendengarkan dakwah Islam.
Usaid langsung marah-marah. Tapi Mush’ab memberikan ucapan yang begitu diplomatis: aku akan menawarkan kepadamu dua. Cobalah duduk sebentar dan dengarkan apa yang aku sampaikan. Jika Anda suka, Anda boleh terima. Tapi jika tidak, aku akan meninggalkan tempat ini sesuai keinginan Anda.
Usaid pun mau. Ia duduk mendengarkan apa yang disampaikan Mush’ab. Saat itu, ia mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari Mush’ab yang begitu menyentuh dan menggugah hati. Wajahnya pun berubah drastis dari marah menjadi hormat.
Saat itu juga, Usaid menerima Islam. Ia menyatakan diri masuk Islam dan siap membela As’ad dan Mush’ab.
Setelah itu, Usaid kembali menemui rekannya: Sa’ad bin Mu’adz. Ia mengelabui temannya itu agar Sa’ad mau mengalami hal seperti dirinya.
“Apa kamu tidak tahu kalau sekelompok orang akan menyerang sepupumu: As’ad? Sepertinya mereka akan membunuhnya,” ucap Usaid begitu meyakinkan.
Sa’ad pun terkejut. Ia mengambil tombak yang dipegang Usaid. “Baiklah, aku akan segera kesana!” ucap Sa’ad.
Setibanya di lokasi, ternyata Sa’ad tidak menemukan keadaan seperti yang diceritakan rekannya itu. Sepupunya terlihat baik-baik saja bersama Mush’ab dan sekelompok warga Madinah. Saat itulah, ia menyadari kalau telah dikelabui Usaid.
Sepertinya halnya Usaid, Sa’ad datang marah-marah. Tapi, Mush’ab mengucapkan hal yang sama: silakan duduk sebentar untuk mendengarkan apa yang kuucapkan. Jika Anda suka, Anda boleh terima. Dan jika tidak, aku akan pergi meninggalkan tempat ini.
Mush’ab membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Sa’ad begitu tersentuh dan tergugah. Ia menyadari kalau itu bukan perkataan biasa. Sa’ad pun menyatakan diri masuk Islam.
Dengan masuk Islamnya Sa’ad, seluruh suku Aus ikut menyatakan diri masuk Islam. Begitu pun dari suku Khazraj yang juga menyatakan diri masuk Islam.
As’ad bin Zurarah sang pelopor dakwah di Madinah tidak berumur panjang. Meski usianya masih muda, Allah mewafatkannya persis di saat Nabi baru saja tiba di Madinah. Saat itu, tengah dibangun Masjid Nabawi.
As’ad akhirnya menjadi sahabat Anshar pertama yang dishalatkan jenazahnya oleh Nabi dan kaum muslimin. Sekaligus sahabat pertama yang dimakamkan di Jannatul Baqi, di dekat Masjid Nabawi.
**
Tak banyak orang yang mau menjadi pelopor kebaikan. Risikonya dan perjuangannya begitu berat. Namun, kemuliaannya teramat istimewa.
Cobalah paksakan diri kita untuk berani mau menjadi pelopor kebaikan. Meskipun dalam kebaikan yang tergolong ringan.
Nabi menjelaskan keutamaannya: sepanjang banyak orang mengikuti kebaikan yang kita pelopori, sebanyak itu pula pahala mereka terus mengalir kepada kita, meskipun kita sudah tak lagi bersama mereka. [Mh]





