SEJARAH Islam mencatat ribuan sahabat Rasulullah yang di dalamnya ada nama-nama yang begitu masyhur karena kiprahnya dalam peperangan atau periwayatan hadis. Namun, ada pula shahabiyah yang hanya disebutkan secara singkat dalam kitab-kitab biografi para sahabat. Salah satunya adalah Unaisah binti Sa’idah, seorang perempuan dari kalangan Anshar yang dikenal karena keimanannya kepada Rasulullah dan kedekatannya dengan masyarakat Madinah.
Meski riwayat tentang kehidupannya tidak sebanyak Khadijah, Aisyah, atau Nusaibah binti Ka’ab, para ulama ahli tarajim (biografi tokoh Islam) tetap mencatat Unaisah sebagai shahabiyah. Hal ini menunjukkan bahwa beliau termasuk generasi mulia yang pernah hidup di masa Rasulullah dan memperoleh kehormatan beriman serta mengikuti dakwah beliau.
Baca Juga: Zainab Ats-Tsaqifiyah, Shahabiyah yang Mengajarkan Sedekah Dimulai dari Rumah
Teladan dari Unaisah binti Sa’idah yang Mengajarkan Keikhlasan di Balik Kesederhanaan
Berasal dari Bani Sa’idah
Unaisah berasal dari Bani Sa’idah, salah satu kabilah besar suku Khazraj di Madinah. Kabilah ini memiliki peran penting dalam sejarah Islam, terutama sebagai bagian dari kaum Anshar yang menyambut hijrah Rasulullah dengan penuh kasih sayang. Lingkungan tempat Unaisah tumbuh adalah masyarakat yang rela berbagi rumah, harta, dan perlindungan kepada kaum Muhajirin demi tegaknya agama Allah.
Menjadi perempuan Anshar pada masa itu bukanlah perkara ringan. Mereka turut mendidik generasi Muslim, menjaga keluarga, membantu kebutuhan masyarakat, serta menghadiri majelis ilmu yang disampaikan Rasulullah. Unaisah diyakini termasuk perempuan yang mengambil bagian dalam kehidupan keislaman Madinah, meskipun kisah-kisah detailnya tidak banyak sampai kepada kita.
Keutamaan yang Tidak Selalu Tercatat
Salah satu pelajaran terbesar dari sosok Unaisah adalah bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu diukur dari banyaknya catatan sejarah. Ada hamba-hamba Allah yang namanya hanya muncul dalam beberapa baris kitab, tetapi kedudukannya tetap mulia karena keimanan dan ketulusannya.
Para ulama menjelaskan bahwa banyak shahabiyah tidak meriwayatkan hadis dalam jumlah besar, bukan karena mereka tidak berilmu, melainkan karena mereka lebih banyak berkhidmat melalui keluarga dan masyarakat. Peran tersebut sering kali berlangsung dalam diam, tetapi menjadi fondasi kokohnya peradaban Islam.
Unaisah mengingatkan kita bahwa amal saleh tidak selalu harus terlihat. Mengurus rumah dengan niat ibadah, mendidik anak menjadi pencinta Al-Qur’an, membantu tetangga, hingga menyambut tamu dengan penuh keramahan merupakan bentuk pengabdian yang sangat dihargai dalam Islam.
Teladan untuk Muslimah Masa Kini
Di era media sosial, banyak orang merasa bahwa setiap kebaikan harus diketahui orang lain. Padahal, kehidupan para shahabiyah mengajarkan kebalikannya. Mereka lebih sibuk memperbaiki hubungan dengan Allah daripada membangun popularitas.
Dari sosok Unaisah binti Sa’idah, kita belajar tiga nilai penting. Pertama, iman yang tulus lebih berharga daripada ketenaran. Kedua, menjadi bagian dari komunitas yang saling menolong adalah ciri kaum Anshar yang patut diteladani. Ketiga, amal yang tersembunyi sering kali memiliki nilai besar di sisi Allah, meskipun tidak dikenang oleh manusia.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Mungkin sejarah tidak menyimpan banyak kisah tentang beliau, tetapi justru di situlah letak hikmahnya. Allah tidak menilai panjangnya biografi seseorang, melainkan ketakwaan yang memenuhi hatinya. Semoga kita termasuk orang-orang yang meneladani keikhlasan para shahabiyah, baik yang terkenal maupun yang hanya dikenang dalam lembaran-lembaran sejarah. [DW]
Sumber: Ensiklopedia Nabi Muhammad SAW di antara Para Shahabiyah. Ichwan Fauzi. Lentera Abadi: 2020.





