NILAM Aceh selama ini dikenal luas sebagai salah satu bahan penting dalam industri fragrance. Namun, bagi ParagonCorp, satu bahan alam dapat menyimpan lebih dari satu kemungkinan ketika terus dipelajari melalui pendekatan ilmiah.
Berangkat dari eksplorasi patchouli dalam konteks fragrance, ParagonCorp kini memperluas scientific exploration terhadap nilam Aceh untuk memahami potensi lain yang dapat dikembangkan bagi aplikasi kosmetik, termasuk skincare.
Eksplorasi tersebut dilakukan bersama Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala (ARC USK) melalui penelitian terhadap patchouli alcohol crystal, komponen yang berasal dari minyak nilam Aceh dan tengah dikaji sebagai kandidat natural active ingredient.
Sebagai purposeful beauty tech company, ParagonCorp menempatkan rasa ingin tahu ilmiah atau scientific curiosity sebagai bagian penting dari proses inovasi. Bukan hanya menggunakan apa yang telah diketahui, tetapi terus mengajukan pertanyaan baru mengenai apa yang masih dapat dipahami, diuji, dan dikembangkan dari sumber daya yang tersedia.
“Dalam riset, satu pengetahuan sering kali membuka pertanyaan berikutnya. Ketika sebelumnya kami mempelajari patchouli dalam konteks fragrance, muncul pertanyaan lain: apakah masih ada potensi dari bahan yang sama yang belum kita pahami? Bagi ParagonCorp, rasa ingin tahu seperti inilah yang mendorong research untuk terus bergerak,” ujar dr. Sari Chairunnisa, Sp.DVE, FINSDV, Deputy CEO and Chief R&D Officer ParagonCorp.
Eksplorasi ini membawa nilam Aceh ke konteks yang lebih luas. Tidak hanya sebagai sumber bahan yang telah dikenal pemanfaatannya, tetapi juga sebagai objek penelitian yang dapat membuka kemungkinan baru bagi pengembangan bahan kosmetik.
Baca juga: ParagonCorp Buka Scholarship Program 2026, Hadirkan Dua Jalur Beasiswa bagi Generasi Muda Indonesia
Nilam Aceh Miliki Potensi Besar untuk Bahan Skincare
Dalam kolaborasi ini, ARC USK membawa keahlian dalam penelitian nilam, minyak atsiri, dan bahan alam, sementara ParagonCorp membawa kapabilitas riset dan pengembangan kosmetik serta pemahaman terhadap kebutuhan industri beauty.
Pertemuan keduanya membuka ruang untuk mengeksplorasi karakteristik dan potensi patchouli alcohol crystal secara lebih mendalam sebelum menentukan kemungkinan pengembangan selanjutnya.
Bagi ParagonCorp, pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya melihat sumber daya lokal bukan semata sebagai bahan baku, tetapi sebagai titik awal untuk membangun knowledge, technology, dan inovasi.
Indonesia memiliki kekayaan bahan alam yang besar, termasuk nilam yang telah menjadi bagian dari potensi sumber daya daerah seperti Aceh. Namun, agar kekayaan tersebut dapat menghasilkan nilai yang lebih besar bagi ekosistem nasional, diperlukan proses yang menghubungkan sumber daya lokal dengan penelitian, scientific evidence, serta kapabilitas industri.
“Yang menarik dari eksplorasi bahan alam adalah kita tidak pernah benar-benar selesai hanya dengan mengetahui satu manfaatnya. Ketika kita memahami suatu komponen lebih dalam, selalu ada kemungkinan muncul pertanyaan baru yang dapat membawa penelitian ke arah yang berbeda. Karena itu, kami melihat nilam bukan hanya sebagai komoditas, tetapi sebagai sumber pengetahuan dan peluang inovasi,” ujar Syaifullah Muhammad, Kepala Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala (ARC USK).
Penelitian terhadap patchouli alcohol crystal saat ini masih berada dalam tahap eksplorasi. Selain memahami potensinya sebagai kandidat bahan aktif alami untuk aplikasi kosmetik, penelitian juga membuka ruang untuk mengeksplorasi pendekatan dan metode yang dapat mendukung pengembangan bahan aktif di masa mendatang.
Karena penelitian masih berlangsung, berbagai potensi yang ditemukan tetap membutuhkan pengujian dan validasi ilmiah lebih lanjut. Dengan demikian, eksplorasi ini belum diarahkan pada kesimpulan mengenai manfaat final maupun klaim produk, melainkan menjadi bagian dari proses membangun pemahaman ilmiah yang lebih kuat.
Dari Aceh, perjalanan nilam pun membuka kemungkinan cerita yang lebih panjang, dari sumber daya lokal, menjadi objek penelitian, hingga berpotensi menghasilkan pengetahuan dan inovasi baru bagi industri beauty Indonesia.
Bagi ParagonCorp, perjalanan tersebut mencerminkan bagaimana kolaborasi antara peneliti, perguruan tinggi, dan industri dapat menciptakan nilai yang lebih besar di sepanjang ekosistem inovasi.
Bukan hanya tentang menghadirkan produk beauty, tetapi juga tentang membangun science, researchers, local resources, technology, dan industry yang menjadi fondasi bagi masa depan beauty Indonesia. [Din]





