SETELAH seharian bekerja menghadapi tenggat waktu, rapat, dan berbagai tuntutan pekerjaan, pulang ke rumah seharusnya menjadi momen untuk beristirahat. Namun kenyataannya, kelelahan sering kali membuat emosi menjadi lebih sensitif. Saat melihat anak masih bermain dan belum juga memulai jadwal menghafal Al Quran, tidak sedikit orang tua yang tanpa sadar meninggikan suara.
Padahal, anak tidak hidup dalam ritme yang sama dengan orang dewasa. Dunia mereka masih dipenuhi rasa ingin tahu, permainan, dan kegembiraan. Ketika kita memaksakan standar disiplin layaknya lingkungan kerja kepada mereka, yang lahir justru tekanan, bukan semangat belajar.
Baca Juga: Manfaat Susu Kurma untuk Kesehatan Wanita
Menumbuhkan Cinta Al-Qur’an Dimulai dari Kelembutan Orang Tua
Mengubah Cara Pandang dalam Mendidik
Banyak orang tua mengira keberhasilan mendidik anak mencintai Al Quran ditentukan oleh banyaknya hafalan yang berhasil diselesaikan setiap hari. Akibatnya, target menjadi lebih penting daripada proses. Anak diminta terus mengejar capaian, sementara perasaannya sering kali terabaikan.
Sesungguhnya, tujuan utama bukan sekadar melahirkan penghafal Al Quran, melainkan menghadirkan generasi yang mencintai firman Allah dengan hati yang lapang. Rasa cinta tidak tumbuh dari ancaman atau hukuman, tetapi dari pengalaman yang menyenangkan. Ketika anak merasa aman dan dihargai, mereka akan lebih mudah membuka hati untuk belajar.
Kesabaran Adalah Investasi Terbaik
Mendidik anak ibarat menanam pohon. Kita tidak bisa menarik batangnya agar cepat tinggi. Yang bisa dilakukan hanyalah menyiram, memberi cahaya, dan merawatnya setiap hari. Begitu pula dalam membimbing hafalan Al Quran.
Orang tua adalah penanam benih yang menentukan suasana belajar. Membaca Al Quran bersama, memberikan pujian atas usaha kecil, dan menunjukkan teladan melalui kebiasaan mengaji merupakan investasi yang nilainya jauh lebih besar daripada sekadar mengejar jumlah ayat. Kenangan tentang ayah atau ibu yang lembut saat menemani belajar akan melekat dalam ingatan anak hingga dewasa.
Mulailah dari Lima Menit
Tidak ada orang tua yang sempurna. Jika sebelumnya pernah marah atau memaksa anak saat menghafal, jangan biarkan rasa bersalah terus menghantui. Selalu ada kesempatan untuk memperbaiki hubungan.
Malam ini, cobalah luangkan lima menit tanpa membawa target apa pun. Duduklah di samping anak, bacakan satu ayat pendek dengan nada ceria, lalu ajak mereka mengulanginya bersama. Setelah itu, peluk mereka dan ucapkan bahwa Anda bangga atas usahanya.
Boleh jadi, satu pelukan hangat lebih berharga daripada satu halaman hafalan yang lahir dari paksaan. Sebab cinta kepada Al Quran tumbuh perlahan, dimulai dari rumah yang dipenuhi kasih sayang dan hati orang tua yang memilih sabar daripada marah. [DW]
Sumber: Slamet Setiawan, S.H.I, M.Pd





