ADA sebuah kalimat yang sering menjadi bahan renungan: “Ketika saya ada, kematian itu tidak ada. Dan ketika kematian itu ada, maka saya tidak ada.” Kalimat ini mengingatkan bahwa hidup dan kematian adalah dua fase yang tidak pernah bertemu. Selama kita masih hidup, kita memiliki kesempatan untuk berbuat baik. Namun ketika kematian datang, seluruh kesempatan itu telah berakhir.
Sesungguhnya hidup adalah perjalanan menuju ajal yang telah Allah tetapkan. Tidak ada seorang pun yang mampu mempercepat atau menundanya. Seseorang yang sedang sakit parah belum tentu meninggal hari itu juga, sementara orang yang tampak sehat bisa saja dipanggil Allah tanpa tanda. Karena itu, yang paling penting bukanlah seberapa lama kita hidup, melainkan bagaimana kita mengisi setiap harinya.
Baca Juga: Manfaat Susu Kurma untuk Kesehatan Wanita
Hidup Adalah Kesempatan Sebelum Kematian Tiba
Allah telah menegaskan dalam Surah Ali Imran ayat 185 bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Ayat ini berlaku bagi semua manusia tanpa memandang statusnya. Raja maupun rakyat, orang kaya maupun miskin, ulama maupun orang biasa, semuanya akan menghadapi pintu yang sama. Kematian adalah pengingat bahwa seluruh kemegahan dunia hanyalah sementara.
Yang membedakan manusia bukanlah banyaknya harta atau tingginya jabatan, tetapi amal saleh yang menjadi bekalnya. Beruntunglah mereka yang menggunakan hidup untuk bertakwa, memperbanyak ibadah, menolong sesama, dan mengajak manusia kepada kebaikan. Itulah investasi yang nilainya tidak akan hilang ketika dunia berakhir.
Al-Qur’an juga menggambarkan penyesalan manusia saat ajal tiba. Dalam Surah Al-Munafiqun ayat 10–11, seseorang berharap diberi sedikit waktu lagi agar dapat bersedekah dan menjadi orang saleh. Namun Allah menegaskan bahwa ketika ajal telah datang, tidak ada penundaan sedikit pun. Kesempatan yang telah disia-siakan tidak akan pernah kembali.
Imam Dzahabi dalam kitab Al-Kabair menyebutkan bahwa di antara penyesalan terbesar saat sakaratul maut adalah belum banyak bersedekah dan belum menunaikan perjalanan ke Tanah Suci bagi yang mampu. Penyesalan itu menjadi pelajaran agar kita tidak terus menunda kebaikan dengan alasan masih muda atau masih memiliki banyak waktu.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pada akhirnya, kematian bukanlah saat untuk memulai amal, melainkan waktu mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan. Selama napas masih berembus, pintu taubat dan kebaikan masih terbuka. Maka jangan tunggu esok untuk berbuat baik, karena hidup adalah kesempatan, sedangkan mati adalah penutup dari setiap kesempatan. [DW]
Sumber: Ustadz Faisal Kunhi




