ULAMA itu hanya takut kepada Allah subhanahu wata’ala. Saat itulah, ia menjadi sosok yang paling pemberani.
Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ada seorang sahabat Nabi yang ulama dan begitu pemberani. Ia bernama Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.
Nama aslinya Saad bin Malik bin Sinan radhiyallahu ‘anhuma. Anak keempat beliau bernama Said, dan beliau pun lebih sering disebut Abu Said.
Di masa remaja, beliau sempat kecewa karena tidak diizinkan Nabi ikut dalam Perang Uhud pada tahun ke-3 hijriyah. Padahal, ia sudah berbaris untuk ikut seleksi.
Ayahnya adalah juga seorang sahabat Anshar dan juga seorang mujahid. Saat mendaftar menjadi calon pasukan Uhud, Abu Said diantar langsung oleh ayahnya.
Rasulullah mengamati tubuh Abu Said, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kemudian Rasulullah menanyakan usia anak itu kepada ayahnya: berapa usia anak ini?
Ayahnya menjawab: 13 tahun. Rasulullah menolak karena masih kecil. Ayahnya kemudian menggenggam lengan Abu Said. “Ya Rasulullah, perhatikanlah, tulang anak ini begitu kuat!” ucap ayahnya.
Kemudian Rasulullah menjawab, “Pulangkan anak ini!”
Ada beberapa anak yang seusia Abu Said yang juga tak bisa ikut menjadi prajurit Uhud. Di antaranya adalah Zaid bin Haritsah al-Anshari radhiyallahu ‘anhu.
Tapi, Abu Said merasa bahagia ketika ayahnya diizinkan Rasulullah untuk ikut Perang Uhud. Dan justru, di momen inilah sebagai perjumpaan terakhir Abu Said dengan ayahnya. Karena, ayahnya syahid dalam Perang Uhud saat melindungi Rasulullah dari serangan pasukan musuh.
Setelah Perang Uhud, Abu Said sudah diperbolehkan Rasulullah untuk ikut. Dan hampir semua perang yang dipimpin Rasulullah selalu diikuti Abu Said.
Meski orang asli Madinah dan punya rumah, Abu Said muda tinggal bersama Ahlus Suffah. Ia tinggal bersama dengan warga miskin pendatang di sebuah pondokan di samping Masjid Nabawi.
Karena itulah, ia banyak menghafal hadis dari Rasulullah. Lebih dari seribu seratus hadis ia hafal. Dan sekitar 84 di antaranya dicatat oleh Imam Bukhari dan Muslim.
Menariknya, meski lebih dari seribu hadis, tak satu pun yang ditulis oleh Abu Said. Semuanya ia hafal dengan sangat baik. Bahkan, ia melarang murid-muridnya untuk menulis hadis. Seperti itulah pelajaran yang ia dapat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Jauh setelah Rasulullah wafat, di masa Dinasti Umayyah, ada seorang khalifahnya: Marwan bin al-Hakam yang ‘melenceng’ dalam shalat Id. Saat itu sang khalifah menjadi khatib.
Entah kenapa, khalifah melakukan khutbah dahulu baru kemudian shalat. Padahal, tuntunan sunnah tidak demikian: shalat dahulu, baru kemudian khutbah.
Saat itu, tak ada yang berani menegur. Tiba-tiba, Abu Said berdiri. Ia secara lantang meluruskan apa yang dilakukan khalifah. Tapi, yang diluruskan tetap saja tidak mau menerima.
Abu Said Al-Khudri wafat di usia lebih dari 70 tahun. Ia mengajak anaknya, Abdurrahman, ke pemakaman Baqi di Madinah. Ia duduk di sebuah tanam pemakaman yang belum ada ‘penghuninya’.
“Anakku, di sinilah nanti engkau kuburkan aku,” ucapnya sambil duduk di atasnya. “Tidak usah kau kabarkan tentang kematianku ke banyak orang,” tambahnya.
Beberapa waktu setelah kunjungan ke pemakaman Baqi itu, Abu Said wafat. Tepat di hari Jumat.
Awalnya, anaknya tidak memberikan perihal kematian ayahnya itu ke siapa pun, sesuai dengan wasiat ayahnya. Tapi, beberapa tetangga memergoki Abdurrahman sedang mengurus jenazah ayahnya.
Sontak saja, berita wafatnya sang guru Madinah itu pun tersebar ke seantero Madinah. Bahkan, pemakaman Baqi tak bisa menampung ‘jamaah’ yang hadir untuk perpisahan terakhir dengan Abu Said Al-Khudri.
**
Orang yang ingin menjadi ulama itu mungkin banyak. Tapi, yang ingin menjadi ulama yang berani meluruskan pemimpin yang bengkok, mungkin tak banyak.
Padahal, jika ulama diam dengan kesalahan pemimpin, maka sang pemimpin akan merasa bahwa yang dilakukannya benar. Dan hal itu menjadi musibah besar untuk umat. [Mh]


