AMANAH menjadi ciri tersendiri seorang mukmin. Terlebih lagi sebagai orang kepercayaan umat.
Ada seorang sahabat Rasulullah yang mendapat gelar ‘Aminul Ummah’ atau orang kepercayaan umat.
Tidak tanggung-tanggung, yang memberikan gelar itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri. Orang itu adalah Abu Ubaidah bin Jarrah radhiyallahu ‘anhu.
Ia lebih muda dari Rasulullah sekitar 13 tahun. Nama aslinya Amir bin Abdullah bin Al-Jarrah. Tapi, orang biasa menyebutnya Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.
Ia orang Quraisy asli dan tergolong orang-orang pertama yang masuk Islam. Abu Ubaidah masuk Islam bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.
Perawakannya tinggi kurus. Janggutnya tipis. Penampilannya berwibawa. Pasca Perang Uhud, ada ciri lain dari wajahnya. Yaitu, dua gigi serinya ompong.
Hal itu terjadi ketika Abu Ubaidah berusaha mencabut potongan besi yang menempel di pipi Rasulullah saat Perang Uhud. Potongan besi itu berhasil dicabut, tapi dua gigi Abu Ubaidah tanggal.
Ketika datang kaum Najran, salah satu suku di Yaman, mereka meminta Rasulullah untuk diutus seorang guru kepada mereka. Rasulullah mengutus Abu Ubaidah.
Kepada kaum Najran itu, Rasulullah mengatakan bahwa orang ini sangat bisa dipercaya, hingga beberapa kali. Dari situlah, Abu Ubaidah mendapat gelar Amiinul Ummah.
Di masa Rasulullah, semua jihad diikuti oleh Abu Ubaidah. Di masa Khalifah Abu Bakar, Abu Ubaidah mendapat tugas khusus. Yaitu, menjadi panglima pasukan yang diutus ke Syam atau Suriah untuk melawan tentara Romawi. Tapi, ia tetap menjadikan Khalid bin Walid sebagai panglima utama karena kerendahan hatinya.
Di masa Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, misi ke Syam yang dipimpin oleh Abu Ubaidah ini diteruskan. Saat itu, ada pergeseran panglima yang diperintahkan khalifah. Yaitu, dari panglima Khalid bin Walid ke Abu Ubaidah.
Menjelang Perang Yarmuk antara pasukan Islam melawan tentara Romawi dalam jumlah sangat besar, tiba-tiba ada pesan khusus dari Khalifah Umar. Ya, tentang pergeseran panglima tadi.
Surat itu diterima oleh Abu Ubaidah sebagai panglima kedua setelah Khalid bin Walid. Tapi, surat itu tidak dibacakan Abu Ubaidah. Ia menyimpannya hingga Perang Yarmuk yang berlangsung selama lima hari usai.
Khalid bin Walid mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Abu Ubaidah karena kebijakannya itu. Tapi kenapa? Tanya Khalid kepada Abu Ubaidah, begitu penasaran.
“Menurutku, ada sesuatu yang lebih penting dari sekadar perang dan politik. Yaitu, persaudaraan Islam,” ucapnya.
Dengan kebijakannya itu, pasukan Islam berhasil mengalahkan Romawi dalam Perang Yarmuk. Setelah itu, Abu Ubaidah ditetapkan Umar sebagai gubernur sekaligus panglima wilayah Syam atau Suriah saat ini.
Meski dengan jabatan tinggi itu, Abu Ubaidah tetap bersahaja. Ia hidup bahkan sangat sederhana, tak ada bedanya dengan prajurit kebanyakan.
Ketika Khalifah Umar berkunjung ke rumah Abu Ubaidah, Umar terharu dengan keadaan rumah Abu Ubaidah. Rumahnya kecil, dan tak ada perabotan apa pun kecuali pedang, pelana kuda, tameng, dan baju perang.
Karena itu, Khalifah Umar menghadiahkan Abu Ubaidah uang sebesar 400 dinar atau senilai 4 miliar rupiah (satu dinar sekitar 4 gram, dan satu gram emas senilai 2,5 juta rupiah). Maksud Umar, uang itu bisa dibelanjakan untuk membeli perabot dan kebutuhan yang layak untuk sang gubernur.
Tapi, apa yang dilakukan Abu Ubaidah? Ia membagi-bagi seluruh uang hadiah itu kepada fakir dan miskin di kawasan Suriah. Dan uang itu habis tak tersisa. Mendapati itu, Khalifah Umar menangis haru.
Di masa kepemimpinan Abu Ubaidah pula, Palestina berhasil ditaklukkan setelah dilakukan pengepungan selama 4 bulan. Itulah penaklukan Palestina pertama di masa kepemimpinan kaum muslimin.
Boleh jadi, karena itu pula, Hamas menjuluki tokohnya dengan gelar yang tak pernah berganti, meskipun orangnya berganti. Yaitu, jubir Abu Ubaidah.
Abu Ubaidah bin Al-Jarrah wafat di usia sekitar 56 tahun. Bukan karena syahid dalam perang. Tapi, syahid karena terkena wabah ‘thaun’ di masa itu.
Seluruh keluarganya wafat tak bersisa. Begitu pun seluruh bawahan dan perwira pasukan Islam yang bersamanya saat itu, antara lain: Khalid bin Walid, Muadz bin Jabal, dan lain-lain.
**
Bersyukurlah ketika seseorang, organisasi, atau umat memberikan kepercayaan kepada kita, dan kita mampu menunaikannya dengan baik.
Dan, jangan pernah terjadi, ketika sebuah kepercayaan umat ditunaikan dengan asal-asalan. Karena tanggung jawabnya bukan hanya di dunia, melainkan juga di akhirat. [Mh]


