SEKIRANYA kesulitan hidup itu wujud siksaan Allah, maka tak ada Nabi dan Rasul yang hidupnya susah.
Ada yang unik dari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Ulama yang lahir sekitar satu setengah abad setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini pernah pergi haji berjalan kaki.
Dari lima kali berhaji, tiga di antaranya dilakukan dengan berjalan kaki. Padahal, jarak dari rumah beliau di Bagdad ke Mekah sekitar 1.850 kilometer. Atau, hampir sama dengan jarak Jakarta ke Medan.
Bayangkan jika kita dari Jakarta ke Medan dengan berjalan kaki. Masya Allah, mungkin kita akan menghentikan perjalanan karena kelelahan. Padahal, keadaan di Arab jauh lebih panas dan kering daripada di Sumatera.
Entah berapa lama beliau menempuh perjalanan sangat jauh itu. Sebagai gambaran, jarak dari Mekah ke Madinah yang sekitar 400-an kilometer saja, ditempuh para sahabat sekitar 18 hari dengan berjalan kaki.
Dengan begitu, lama perjalanan Imam Ahmad berhaji dengan berjalan kaki mungkin bisa berbulan-bulan. Dan beliau kadang berjalan kaki sejauh itu dengan seorang diri.
Pernah suatu kali dalam perjalanan itu, Imam Ahmad tersesat jalan. Akhirnya, ada satu kalimat yang ia ucapkan dan menjadi begitu terkenal hingga saat ini: Ya ‘ibaadallah, dulluunii ‘alath-thariq. Wahai hamba-hamba Allah, tunjukkan aku ke jalan yang semestinya.
Artinya, Imam Ahmad yang berjalan sendirian, meminta tolong kepada makhluk-makhluk gaib seperti malaikat atau jin yang soleh untuk menunjukkan beliau jalan yang semestinya menuju Mekah.
Pertanyaannya, kenapa Imam Ahmad memilih bersusah payah dengan berjalan kaki padahal tersedia kendaraan tunggangan seperti unta dan kuda?
Hal ini karena beliau ingin merasakan pengorbanan yang lebih besar dalam melaksanakan ibadah haji. Dengan begitu, beliau akan merasakan kedekatan dengan Allah subhanahu wata’ala.
**
Kenikmatan hakiki untuk orang-orang soleh itu bukan ketika segalanya menjadi mudah. Sebaliknya, justru ketika kesusahan menuntutnya untuk lebih banyak berkorban dan berjihad di jalan Allah.
Jangan salah paham dengan keadaan sulit yang mungkin kita alami. Kadang dengan begitulah, kita jadi lebih sering menyebut dan memohon pertolongan Allah subhanahu wata’ala. [Mh]



