KESALAHAN bisa dilakukan siapa saja. Yang di ‘atas’ maupun yang di ‘bawah’. Jangan biarkan kesalahan terjadi dan membudaya.
Ada hadis dari Nu’man Al-Basyir radhiyallahu ‘anhu dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari tentang amar ma’ruf nahi munkar. Memerintahkan yang baik dan mencegah dari yang salah.
Dalam hadis itu diumpamakan dua kelompok orang yang menumpang kapal. Ada yang di bagian atas dek dan ada yang di bawahnya.
Orang-orang yang berada di bawah dek kesulitan mengambil air di sungai. Jika ingin mengambil air, mereka harus naik ke dek dan hal itu mengganggu penumpang di situ.
Hingga, ada ide ‘cemerlang’ dari mereka yang di bawah dek: kenapa repot-repot naik ke atas dek, padahal air sungai ada di bagian bawah perahu. Tinggal perahu dilubangi, air akan bisa langsung diperoleh.
Jika ide ‘cemerlang’ itu tidak diluruskan, maka hal itu akan mencelakai seluruh penumpang. Karena dengan begitu, perahu akan mengalami kebocoran.
**
Ide ‘cemerlang’ bisa terjadi di posisi mana saja. Lebih parah lagi jika itu datang dari para pejabat tinggi.
Misalnya, betapa repotnya memperoleh anggaran belanja: harus buat proposal anggaran, mengajukannya ke perwakilan rakyat, dan menunggunya hingga uang itu ‘cair’. Butuh waktu lama.
Padahal, kas anggarannya ada pada mereka. Kenapa tidak ‘dibocorkan’ saja kas itu untuk dipakai seperlunya, laporannya bisa menyusul.
Jika hal itu dibiarkan, maka akan terjadi kebocoran luar biasa pada kas negara. Yang akan karam bukan hanya para pejabatnya, melainkan semua warga negaranya. [Mh]



