RUPIAH terus mengalami ketidakberdayaan. Inflasi atau penurunan nilai mata uang selalu berlangsung dari waktu ke waktu.
Kalau kita cek mata uang rial Iran, maka akan ada keanehan jika dibandingkan dengan mata uang mana pun, termasuk rupiah. Di mana anehnya?
Nilai rial Iran begitu rendah. Tapi, ekonominya tidak mengalami gonjang-ganjing seperti di Indonesia.
Mata Uang Terendah di Dunia
Kita mungkin akan sedih jika membandingkan rupiah dengan mata uang asing di dunia. Kenapa? Karena selalu saja, nilai rupiah ada di bawahnya. Apalagi dengan dolar AS.
Tapi, ketika kita cek nilai 1 rupiah terhadap rial Iran, maka kita akan merasa bangga. Hal ini karena nilai 1 rupiah sama dengan 76,53 rial Iran. Seolah-olah, ada negara yang mata uangnya jauh lebih bermasalah dari rupiah.
Kita pun akan lebih kaget lagi jika membandingkan rial Iran dengan dolar AS. Karena, 1 dolar AS nilainya sama dengan 1.375.000 rial Iran.
Wow! Betapa rendahnya. Suatu hal yang tidak mungkin terjadi terhadap rupiah jika dibandingkan dengan 1 dolar AS.
Ekonominya Tetap Mapan
Nah, inilah yang membedakan rial Iran dengan mata uang mana pun di dunia. Meskipun nilainya begitu rendah, tapi kesejahteraan warganya baik-baik saja.
Coba bayangkan, berapa harga 1 liter bensin terbaik Iran dengan mata uang rupiah? Harganya sama dengan 500 rupiah.
Orang pun akan berujar, “Ya jelas saja, Iran kan penghasil minyak terbesar di dunia. Wajar kalau harga BBM di sana begitu murah.”
Nah, sekarang dicek lagi berapa harga 1 kilogram beras di Iran? Di Indonesia, harganya rata-rata sebesar 15 rupiah. Sementara di Iran, harganya 300 rupiah per kilogram. Tidak jauh berbeda dengan harga bensinnya.
Tidak heran jika banyak terjadi kesalahan fatal media massa luar negeri ketika hanya memperhatikan nilai mata uang rial Iran, tanpa melihat fundamental ekonomi mereka.
Srategi Ekonomi Brilian
Iran mengalami blokade ekonomi oleh dunia yang disponsori AS dan Eropa sejak tahun 1979. Tidak boleh ada negara mana pun yang melakukan hubungan dagang dengan Iran. Jika ada, maka negara itu akan terkena sanksi.
Meskipun pada prakteknya, banyak juga negara yang melakukan hubungan dagang secara sembunyi-sembunyi dengan Iran. Antara lain, Cina, Rusia, dan lainnya.
Jika mengikuti logika blokade ini, maka Iran mestinya sudah jatuh miskin dan melarat. Tapi kenyataannya? Sungguh di luar nalar.
Kenapa? Karena Iran membangun kemandirian ekonomi secara menyeluruh. Bisa dibilang, hampir seluruh kebutuhan negara bisa dipenuhi dari dalam negeri. Tidak ada impor.
Kalau dari segi minyak, hal itu memang wajar. Bahkan Iran sangat surplus hasil minyak buminya.
Tapi bagaimana dengan kebutuhan lainnya, seperti kebutuhan pokok, mesin, elektronik, dan lainnya.
Nah, di sinilah strategi pembangunan mereka yang ulet dan konsisten. Karena risikonya begitu fatal jika melakukan impor, maka semua kebutuhan itu diperjuangkan untuk bisa dipenuhi sendiri dari dalam negeri.
Apa dampaknya? Iran bisa membuat mobil sendiri, bisa membuat barang-barang elektronik sendiri, dan seterusnya. Meskipun produksinya tidak secanggih dari luar negeri seperti produk Jepang dan Cina.
Dengan kata lain, jika rupiah ingin seperti rial Iran yang tidak terpengaruh oleh mata uang asing, maka perjuangkan untuk bisa memproduksi kebutuhan sendiri alias jangan impor.
Bisakah? Ya, itu sangat bergantung pada mentalitas dan kecerdasan para pemimpin dan rakyatnya. Termasuk kita semua. [Mh]


