KELUARGA itu rumah kita. Dahulukan keluarga untuk segalanya, termasuk ajakan dakwah.
Nabi Nuh alaihissalam memiliki keluarga yang sangat ia cintai. Ada istri yang ia cintai, dan empat anak beliau.
Empat anak itu laki-laki, yaitu Kan’an atau Yam, Yafith, Sam, dan Ham. Keempatnya, di mata Nabi Nuh, menerima ajaran dakwah.
Namun, ada seorang anak yang secara sembunyi-sembunyi menyimpan kekufurannya. Anak itu adalah yang sulung, namanya Kan’an.
Di depan Nabi Nuh, ia terlihat seperti beriman. Tapi di belakang Nabi Nuh, ia bersekongkol dengan orang-orang kafir untuk melakukan perlawanan dan penghinaan.
Selain karena cahaya hidayah Allah subhanahu wata’ala yang terhalang untuk Kan’an, peran istri Nabi Nuh yang juga kufur boleh jadi sangat mempengaruhi Kan’an. Keduanya sama-sama menolak dakwah Nabi Nuh. Tapi, dengan cara sembunyi-seumbunyi.
Selama 950 tahun Nabi Nuh berdakwah, selama itu pula pengkhianatan itu terjadi. Bayangkan, dari sekian lama itu dakwah berlangsung, hanya sekitar 70 hingga 80 orang saja yang beriman.
Kekufuran istri dan anak sulung Nabi Nuh akhirnya terlihat. Di saat azab Allah datang yaitu berupa banjir sangat besar, keduanya menyatakan penolakan. Keduanya tak mau ikut bersama Nabi Nuh menaiki kapal.
Jumhur atau mayoritas ulama menafsirkan bahwa banjir itu menenggelamkan seluruh permukaan bumi. Termasuk gunung-gunung tinggi.
Setelah istrinya menolak ikut, Nabi Nuh mencari-cari Kan’an. Sementara, anak-anaknya yang lain sudah berada di atas kapal bersama Nabi Nuh.
Sosok Kan’an akhirnya terlihat dari kejauhan. Ia berenang menuju ke suatu tempat. Nabi Nuh berusaha mengarahkan kapal untuk mendekat.
Ia berteriak-teriak mengajak Kan’an. Tapi, Kan’an memberikan jawaban penolakan yang tegas: aku akan menuju gunung agar bisa selamat dari banjir ini.
“Hei anakku, tidak ada yang selamat hari ini dari banjir besar ini!” ucap Nabi Nuh ingin meyakinkan anaknya yang terus menjauh.
Tiba-tiba, ada ombak besar yang menghanyutkan Kan’an entah kemana. Sosoknya tiba-tiba hilang tenggelam dalam ombak besar itu.
Nabi Nuh menangis. Ia bermunajat kepada Allah seperti ‘menagih’ janji Allah yang akan menyelamatkan keluarganya.
“Ya Allah, dia itu anakku dan bagian dari keluargaku, sesungguhnya janji-Mu itu sangat benar. Dan Engkau hakim yang paling adil,” ucap Nabi Nuh.
Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Wahai Nuh, sesungguhnya dia itu bukanlah termasuk keluargamu karena perbuatannya sungguh tidak baik. Sebab itu, janganlah engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya)…” (QS. Hud: 42-46)
Karena ketidaktahuannya itu, Nabi Nuh memohon ampun kepada Allah.
**
Nabi Nuh alaihissalam bukan orang sembarangan. Dakwahnya begitu luar biasa, termasuk kepada istri dan anak-anaknya. Beliau begitu sabar berdakwah hingga hampir sepuluh abad dengan penolakan umatnya yang begitu dahsyat.
Namun, Allah memberikan pelajaran untuk kita semua bahwa bisa saja terjadi penolakan sembunyi-sembunyi dari keluarga sehingga kita tidak menyadari.
Kalau Nabi Nuh yang begitu istimewa saja bisa mengalami hal itu, apalagi kita.
Rasanya, tidak cukup upaya dakwah saja. Tidak cukup hanya dengan sentuhan fisik dan psikis saja.
Harus ada doa terus-menerus agar Allah menyelamatkan kita dan keluarga dari kekufuran. (QS. Al-Furqan: 74) [Mh]


