KELUARGA merupakan bagian dari objek dakwah. Sertakan keluarga dalam dakwah.
Ada sudut pandang dari seseorang yang begitu dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Orang itu mungkin tak terkenal di masanya, karena ia hanya gadis bungsu Nabi. Ia adalah Sayyidah Fathimah Az-Zahra radhiyallahu ‘anha.
Ada perbedaan pendapat para ulama tentang kelahirannya. Tapi sebagian besarnya mengatakan bahwa Fathimah lahir di tahun 605 masehi. Tahun itu sama dengan lima tahun sebelum masa kenabian ayahandanya shallallahu ‘alaihi wasallam.
Setelah kakak-kakaknya menikah dan ibunya wafat, Fathimah tinggal bersama kakak di atasnya yang belum menikah, yaitu Ummu Kulsum radhiyallahu ‘anha. Setiap kali Rasulullah pulang dari mana pun, beliau selalu menjumpai Fathimah sebelum menemui istri-istrinya.
Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa orang yang paling dicintai Rasul adalah Fathimah. Aisyah juga menilai bahwa Fathimah begitu mirip dengan Rasulullah, terutama dari cara dan tutur bicaranya.
Begitu pun ketika Fathimah sudah mempunyai dua anak laki-laki, kecintaan Rasulullah juga begitu bertambah.
Dalam suatu kesempatan, di sebuah mimbar, bahkan Rasulullah memberikan isyarat kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu untuk tidak berpoligami. “Siapa yang menyakiti hati Fathimah, ia sama saja menyakiti hatiku.”
Namun begitu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memberikan keistimewaan kepada Fathimah melebihi para sahabat yang lain. Pernah Fathimah meminta ayahandanya pembantu karena ia merasa kerepotan dengan urusan rumah tangga.
Meskipun rasanya itu bisa dikabulkan Nabi, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam lebih memilih memberikan nasihat kepada Fathimah untuk bersabar dan banyak berdoa kepada Allah.
Meskipun sebagai putri Nabi, Fathimah juga ikut membantu barisan mujahidin dalam Perang Uhud. Ia bergabung dalam kaum wanita yang mengurus perbekalan, mengobati yang luka, dan lainnya.
Hal sedih yang paling dirasakan Fathimah adalah kekhawatirannya dengan kesehatan ayahandanya. Ia menyaksikan bahwa semua kakaknya sudah wafat karena sakit. Hal inilah yang dirasakan Fathimah saat mendapati Nabi sakit parah.
Ia dan suaminya, Ali bin Abi Thalib, hampir tak pernah menyingkir dari ayahandanya. Di saat sakit itu, Rasulullah memberikan isyarat kepada Fathimah untuk lebih mendekat. Dan Rasulullah pun membisikkan sesuatu.
Pada bisikan pertama, Fathimah langsung bereaksi menangis. Dan pada bisikan kedua, ia berubah menjadi tersenyum.
Belakangan, orang baru mengetahui apa yang dibisikkan Rasulullah kepada Fathimah sehingga ia menangis dan kemudian tersenyum.
Pada bisikan pertama, Rasulullah mengatakan bahwa beliau akan wafat. Hal itu membuat Fathimah menangis. Dan pada bisikan kedua, Rasulullah mengatakan bahwa Fathimahlah orang pertama yang menyusulnya. Dan hal itu membuat Fathimah tersenyum.
Setelah kematian ayahandanya shallallahu ‘alaihi wasallam, Fathimah sakit. Berselang enam bulan kemudian, ibu dari Sayyidina Hasan, Husein, Zainab, Ummu Kulsum, dan Muhsin ini pun wafat.
Hidupnya memang singkat, sekitar 27 tahun. Namun, dari keturunannyalah silsilah zurriyat Rasulullah terus tersambung hingga saat ini.
Suatu kali, Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu mendengar Nabi mengatakan bahwa nasab dari Fathimah adalah nasabku. Inilah dasar dari silsilah zurriyat Rasulullah melalui anak-anak Fathimah radhiyallahu ‘anha.
**
Jangan biarkan anak-anak kita merasa bukan bagian dari misi dakwah ayah ibunya. Ajak mereka, libatkan mereka, dan banggakan mereka dengan posisi dakwah yang sesuai.
Karena, dari merekalah amal soleh bisa terus lestari, sambung menyambung ke anak cucu. [Mh]





