DI BALIK perjuangan para sahabat Rasulullah SAW, ada banyak perempuan salehah yang memilih hidup sederhana demi mempertahankan keimanan. Salah satunya adalah Dlabyah binti Al Barra atau yang lebih dikenal dalam literatur Arab sebagai Dliba’ah binti Az-Zubair bin Abdul Muthalib. Ia merupakan sepupu Rasulullah SAW sekaligus salah seorang shahabiyah yang dikenal karena keteguhan hati dan kesederhanaannya.
Kisah hidupnya mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang bukan ditentukan oleh keturunan atau kekayaan, melainkan oleh ketakwaan dan pilihan hidup yang diambil karena Allah.
Baca Juga: Hidup Adalah Kesempatan Sebelum Kematian Tiba
Kisah Dlabyah binti Al Barra Perempuan Mulia yang Memilih Iman
Lahir dari keluarga Quraisy yang mulia
Dlabyah binti Al Barra berasal dari Bani Hasyim, keluarga yang memiliki kedudukan terhormat di tengah masyarakat Makkah. Sebagai putri Az-Zubair bin Abdul Muthalib, ia masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah SAW. Namun, nasab yang mulia tidak membuatnya hidup dalam kemewahan atau mencari pasangan berdasarkan harta semata.
Ia justru memilih menikah dengan Al-Miqdad bin Amr, salah seorang sahabat Rasulullah yang terkenal karena keberanian dan keimanannya. Al-Miqdad bukanlah orang kaya, tetapi ia termasuk pejuang Islam yang sangat dicintai Nabi Muhammad SAW.
Memilih pasangan karena agama
Salah satu pelajaran terbesar dari kisah Dlabyah adalah keberaniannya memilih iman di atas status sosial. Pada masa itu, perbedaan kedudukan suku sering menjadi pertimbangan utama dalam pernikahan. Namun Dlabyah membuktikan bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah adalah ketakwaan, bukan kemewahan dunia.
Bersama Al-Miqdad, ia menjalani kehidupan rumah tangga yang sederhana. Rumah mereka tidak dipenuhi harta, tetapi dipenuhi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Kesederhanaan tersebut justru menjadi sumber keberkahan dalam keluarga mereka.
Setia mendampingi perjuangan suami
Sebagai istri seorang pejuang Islam, Dlabyah memahami bahwa kehidupan tidak selalu mudah. Al-Miqdad sering terlibat dalam berbagai perjuangan bersama Rasulullah SAW sehingga keluarganya harus menghadapi keterbatasan materi dan berbagai ujian.
Meski demikian, tidak ada riwayat yang menunjukkan ia mengeluh atau menyesali pilihannya. Ia tetap mendukung suaminya dalam kebaikan dan menjadikan rumah tangga sebagai tempat tumbuhnya keimanan. Sikap inilah yang membuatnya dikenang sebagai salah satu shahabiyah yang penuh keteguhan.
Teladan bagi perempuan masa kini
Kisah Dlabyah binti Al Barra relevan hingga sekarang. Di tengah budaya yang sering mengukur kebahagiaan dari materi, ia mengajarkan bahwa memilih pasangan yang berakhlak dan bertakwa jauh lebih berharga daripada mengejar kemewahan semata.
Selain itu, ia juga menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran besar dalam membangun keluarga yang saleh. Dukungan, kesabaran, dan keikhlasan seorang istri dapat menjadi kekuatan bagi suami dalam menjalankan amanah dan perjuangan hidupnya.
Tentu bukan berarti harta tidak penting. Islam tetap menganjurkan ikhtiar mencari rezeki yang halal. Namun, kisah Dlabyah mengingatkan bahwa fondasi rumah tangga yang kokoh dibangun di atas iman, saling menghormati, dan tujuan yang sama untuk mendekat kepada Allah.
Nama Dlabyah mungkin tidak sepopuler shahabiyah lainnya, tetapi keteladanannya tetap bersinar dalam sejarah Islam. Ia membuktikan bahwa kemuliaan seorang perempuan lahir dari hati yang ikhlas, pilihan hidup yang benar, serta kesetiaan mendampingi jalan kebaikan. [DW]





