ABDULLAH ibn Amr ibn al-Ash adalah sahabat Nabi saw. yang berasal dari suku Quraisy keturunan Bani Sahmi. Ayahnya bernama Amr ibn al-Ash, salah seorang diplomat Quraisy yang sangat uluiig. Ibunya bernama Raithah bint Munabbih ibn alHajjaj al-Sahmi. Abdullah lebih dahulu memeluk Islam daripada ayahnya, dan Allah menganugerahinya kecerdasan dan kekuatan hafalan.
Abu Hurairah r.a. pernah berkata, “Tak seorang pun yang melebihi aku dalam hafalan hadis Rasulullah Shalallahu, ‘alaihi wa Sallam selain Abdullah ibn Amr ibn al-Ash. la selalu menulis (hadis), sedangkan aku tidak.”
Baca Juga: Kisah Abdullah bin Amr bin Haram yang Diajak Bicara oleh Allah
Kisah Abdullah ibn Amr ibn al-Ash, Sahabat Rasulullah yang Tekun Beribadah
Abdullah sendiri pernah berkata, “Aku menghafal dari Rasulullah, seribu hadis.” Selain sahabat terkemuka, Abdullah ibn Amr juga menjadi salah seorang yang sering dimintai pendapat. la rajin membaca
dan mempelajari berbagai kitab, dan tekun mengaji Al-Quran. la pernah meminta izin kepada Nabi saw. untuk menuliskan hadis, dan beliau mengizinkannya. Abdullah berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku menuliskan apa yang aku dengar, baik dalam keadaan rida maupun marah?”
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Allah menjadikan umat Muhammad saw. sebagai umat yang pertengahan, tidak berlebihan dan tidak melampaui batas. Namun, Abdullah ibn Amr termasuk di antara muslim yang sangat mengutamakan ibadah sehingga cenderung mengabaikan kepentingan diri sendiri dan keluarga. Waktu malam ia habiskan untuk shalat dan berzikir, sementara siang hari ia gunakan untuk berpuasa.
Bahkan, ia sering mengkhatamkan Al-Quran hanya dalam waktu sehari semalam. la juga sengaja menjauhi keluarganya. Karena itulah ayahnya, Amr ibn al-Ash mengadu kepada Nabi saw. sehingga beliau meraih tangan Abdullah dan diletakkan ke tangan ayahnya, Amr ibn al-Ash, lalu beliau bersabda, “Kerjakanlah apa yang kuperintahkan kepadamu dan taati ayahmu!”
Ketika Perang Shiffin meletus, ayahnya, yang berada di barisan Muawiyah, mengajaknya bergabung seraya mengungkapkan sabda Nabi saw. yang pernah dikatakan kepada Abdullah: “Taatilah ayahmu!” Maka, dengan sangat berat hati ia mengikuti kemauan Amr ibn al-Ash meskipun ia tidak ikut bertempur. Ketika Husain ibn Ali mencelanya karena bergabung di barisan Muawiyah, Abdullah berkata, “Demi Allah, aku tidak
menghunus pedang, tidak melemparkan tombak, dan tidak lepaskan panah.”
Abdullah ibn Amr ibn al-Ash meriwayatkan 700 hadis Rasulullah. Di usia senja ia mengalami kebutaan. la wafat pada usia 70 tahun lebih. Ada juga yang mengatakan 90 tahun lebih. Walhahu a‘lam. [DW]
Sumber: Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi. Muhammad Raji Hasan Kinas. Zaman: 2012.





