ABDULLAH ibn Ruwahah adalah seorang sahabat Nabi saw. dari kalangan Anshar, yang berasal dari suku Khazraj keturunan Bani Haritsi. la dikenal sebagai penyair ulung. Ayahnya bernama Haritsah ibn Tsa‘labah ibn Imri al-Qais dan ibunya bernama Kabsyah bint Waqid. la punya beberapa nama panggilan, antara lain Abu Muhammad, Abu Ruwahah, dan Abu Amr.
Abdullah ibn Ruwahah termasuk di antara tiga penyair Rasulullah, dua orang lainnya adalah Ka‘b ibn Malik dan
Hassan ibn Tsabit—keduanya pun orang Anshar. Abdullah ibn Ruwahah memeluk Islam setelah mendengarkan bacaan AlQuran Mush‘ab ibn Umair. Dikisahkan bahwa suatu hari, secara tak sengaja ia mendengar Mush‘ab membacakan ayat-ayat Al-Quran dan menjelaskan ajaran-ajaran Islam.
la tertarik mendengar penjelasannya dan merasa tak dapat memungkiri kebenaran Islam. la sangat yakin bahwa apa yang didengarnya sangat layak untuk dimuliakan. Ketertarikan itu menuntunnya menemui Mush‘ab untuk menyatakan keislamannya. Sejak saat itulah ia kerap menghadiri majelis ilmu yang digelar oleh Mush’ab ibn Umair. la menemukan ketenangan dan ketenteraman di tempat yang sederhana itu.
Baca Juga: Kisah Abdullah bin Amr bin Haram yang Diajak Bicara oleh Allah
Inilah Kisah Abdullah bin Ruwahah yang Ahli Pedang dan Pena
Nabi Muhammad pernah bersabda kepada Abdullah ibn Ruwahah dan kedua sahabatnya sesama penyair Ka‘b ibn Malik dan Hassan ibn Tsabit, “Bantahlah kaum Quraisy. Sungguh bantahan kalian itu berpengaruh bagi mereka melebihi tusukan tombak.” Ucapan Rasulullah saw. itu membuat mereka berbinar-binar bahagia. Dengan segala kecakapan mereka berupaya menaati perintah beliau.
Abdullah ibn Ruwahah juga dikenal sebagai sahabat yang sangat takwa dan warak. Jika bertemu seorang sahabat, ia akan memanggilnya dan berkata, “Mendekatlah, mari kita bicara tentang keimanan sebentar!”
la juga mumpuni dalam iirusan berkuda dan bertarung. Ketangguhan dan ketangkasannya sangat terkenal di setiap medan perang. Di Perang Badar, ia dan kedua putra Afra berderap maju untuk meladeni tantangan duel dari pemuka musyrik, yaitu al-Walid ibn Utbah dan ayahnya sendiri Utbah serta pamannya Syaibah.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Namun, ketiga orang Quraisy itu menolak menghadapi mereka. Ketiganya bersikukuh ingin bertarung melawan para sahabat Muhajirin. Akhirnya, mereka tewas di tangan Ali, Hamzah, dan Ubaidah ibn al-Harits. Perang Badar telah membawa kemenangan besar bagi kaum muslim.
Berkat kesalehan dan kejujurannya, Abu Darda tertarik untuk memeluk Islam. Itu terjadi setelah kaum muslim kembali dari Perang Badar. Saat iru Abdullah hendak mengunjungi rumah Abu Darda dan ia membawa sebilah kapak. Kerika memasuki rumah sahabatnya itu, pandangan Abdullah tertuju pada sebuah berhala yang biasa disembah Abdu Darda.
Tanpa basa-basi lagi, Abdullah langsung menghancurkan berhala itu dengan kapaknya hingga menjadi serpihan kayu kecil. Abu Darda, tuan rumah sekaligus pemilik berhala itu, marah dan mempertanyakan tindakan kawannya itu. Maka Abdullah ibn Ruwahah menjelaskan sesatnya keyakinan Abu Darda selama ini. la menyembah sesuatu yang tidak dapat mendatangkan manfaatmaupun mudarat. [DW]
Sumber: Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi. Muhammad Raji Hasan Kinas. Zaman: 2012.





