SAHABAT Rasulullah yang akan diceritakan dalam artikel ini mempunyai nama lengkap Ja’far bin Abi Thalib, sepupu Rasulullah sekaligus saudara kandung Ali bin Abi Thalib. Ia dikenal sebagai pribadi yang pemberani, lembut, dan memiliki kecintaan yang besar terhadap Islam.
Salah satu keistimewaan yang diberikan Allah kepada Ja’far adalah karamah berupa kedudukan mulia di surga yang membuatnya dikenal sebagai “Ath-Thayyar” atau “yang terbang”. Kisah ini menjadi salah satu cerita yang menginspirasi umat Islam tentang pengorbanan dan balasan luar biasa bagi orang-orang yang berjuang di jalan Allah.
Suatu ketika, Rasulullah Shalallahu, ‘alaihi wa Sallam pernah bertanya kepada Ja’far, “Wahai Ja’far ath-Thayyar, wahai putra Abu Thalib, dengan amal apa engkau memperoleh karomah ini?” “Aku tidak tahu ya Rasulullah. Aku hanya mencegah diri dari tiga hal pada saat aku masih kafir dan pada saat beragama Islam. ” jawabnya.
Rasulullah bertanya, “Apa itu , ya Ja’far?” “Aku tidak pernah berbohong, tidak pernah berzina, dan tidak pernah mabuk.” ujar Ja’far.
Baca Juga: Tsa’labah bin Abdurrahman dan Air Mata Taubat yang Menggetarkan Hati
Karamah yang Diberikan Allah untuk Ja’far ath-Thayyar
Ja’far termasuk golongan awal yang memeluk Islam. Ketika tekanan kaum Quraisy terhadap kaum Muslimin semakin berat, Rasulullah memerintahkan sebagian sahabat untuk berhijrah ke Habasyah (Ethiopia). Dalam rombongan tersebut, Ja’far dipercaya menjadi pemimpin.
Di negeri Habasyah, Ja’far menunjukkan kebijaksanaan dan keberanian yang luar biasa. Ketika Raja Najasyi meminta penjelasan tentang ajaran Islam karena adanya tekanan dari utusan Quraisy, Ja’far tampil mewakili kaum Muslimin. Dengan penuh ketenangan, ia menjelaskan ajaran Islam dan membacakan ayat-ayat dari Surah Maryam. Penjelasan itu membuat Raja Najasyi terharu hingga memberikan perlindungan kepada kaum Muslimin.
Beberapa tahun kemudian, Ja’far kembali ke Madinah dan bergabung bersama Rasulullah SAW. Kehadirannya disambut dengan penuh kebahagiaan. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah sangat gembira dengan kedatangan Ja’far hingga beliau berkata bahwa dirinya tidak tahu mana yang lebih membahagiakan, kemenangan di Khaibar atau kedatangan Ja’far.
Puncak pengorbanan Ja’far terjadi dalam Perang Mu’tah yang berlangsung pada tahun 8 Hijriah. Dalam peperangan tersebut, Rasulullah menunjuk tiga panglima secara berurutan, yaitu Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Ketika Zaid gugur sebagai syahid, Ja’far mengambil panji pasukan Islam. Ia maju ke medan pertempuran dengan penuh keberanian menghadapi pasukan Romawi yang jumlahnya jauh lebih besar. Dalam pertempuran sengit itu, tangan kanannya terkena tebasan hingga putus. Namun ia tetap memegang panji dengan tangan kirinya. Ketika tangan kirinya juga terputus, Ja’far memeluk panji tersebut dengan kedua lengannya agar tidak jatuh ke tanah.
Akhirnya Ja’far gugur sebagai syahid setelah menerima banyak luka di tubuhnya. Pengorbanannya yang luar biasa mendapatkan balasan istimewa dari Allah SWT. Rasulullah mengabarkan bahwa Allah mengganti kedua tangan Ja’far yang terputus dengan dua sayap di surga yang membuatnya dapat terbang ke mana saja sesuai kehendak Allah. Karena itulah ia dikenal dengan gelar Ja’far Ath-Thayyar.
Hingga hari ini, nama Ja’far Ath-Thayyar tetap dikenang sebagai simbol kesetiaan dan pengorbanan. Kisahnya menjadi pengingat bahwa setiap amal yang dilakukan dengan ikhlas akan mendapatkan balasan terbaik dari Allah, baik di dunia maupun di akhirat. [DW]
Sumber: Dahsyatnya Ibadah Para Sahabat Rasulullah SAW. Yanuar Arifin. Noktah: 2020.





