SETIAP manusia pasti memiliki rencana. Kita merancang masa depan, menetapkan target, dan berharap semua berjalan sesuai keinginan. Namun, tidak semua yang direncanakan akan terwujud. Ada kalanya jalan hidup justru berbelok ke arah yang sama sekali tidak kita duga. Di saat seperti itulah hati sering bertanya, “Mengapa ini harus terjadi?”
Sebagai seorang hamba, kita perlu menyadari bahwa hidup ini berada sepenuhnya dalam kehendak Allah. Apa yang Allah tetapkan bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa hikmah. Bahkan ketika manusia belum mampu memahami alasannya, ketetapan Allah tetap mengandung kebaikan yang mungkin baru akan terlihat di kemudian hari.
Karena itulah, seorang mukmin diajarkan untuk memperbanyak husnuzan atau berbaik sangka kepada Allah. Sikap ini bukan sekadar mengucapkan kalimat positif, tetapi benar-benar meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Pentingnya Berprasangka Baik pada Allah
Sering kali kita menilai suatu peristiwa hanya dari sudut pandang yang sempit. Ketika kehilangan pekerjaan, kita menganggap hidup sedang tidak adil. Saat doa belum juga dikabulkan, kita merasa Allah tidak mendengar permohonan kita. Padahal bisa jadi, Allah sedang menjaga kita dari sesuatu yang tidak kita ketahui.
Allah lebih mengetahui masa depan yang belum pernah kita lihat. Dia mengetahui siapa yang pantas hadir dalam hidup kita, kapan waktu terbaik untuk mengabulkan doa, dan kapan seseorang harus diuji agar menjadi pribadi yang lebih kuat.
Itulah sebabnya seorang hamba tidak memiliki alasan untuk mempersoalkan keputusan Rabb-nya. Bukan karena ia tidak boleh bertanya atau mengadu, tetapi karena ia percaya bahwa ilmu Allah jauh melampaui pengetahuan manusia.
Berbaik sangka kepada Allah juga membuat hati menjadi lebih tenang. Ketika musibah datang, kita tidak mudah menyalahkan keadaan. Ketika rezeki terasa sempit, kita tetap berusaha sambil yakin bahwa Allah tidak pernah menelantarkan hamba-Nya. Keyakinan seperti ini menjadi sumber kekuatan yang membuat seseorang tetap teguh menghadapi berbagai ujian.
Sebaliknya, buruk sangka kepada Allah hanya akan menambah beban dalam hati. Seseorang akan mudah kecewa, marah, bahkan merasa hidupnya paling berat dibandingkan orang lain. Padahal setiap manusia memiliki ujian yang berbeda-beda sesuai kemampuan masing-masing.
Rasulullah mengajarkan bahwa Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya kepada-Nya. Karena itu, membiasakan hati untuk selalu berharap kepada rahmat Allah merupakan bagian dari ibadah. Bukan berarti kita berhenti berikhtiar, tetapi setelah berusaha semaksimal mungkin, kita menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh kepercayaan.
Saat satu pintu tertutup, mungkin Allah sedang menyiapkan pintu lain yang lebih baik. Saat sebuah impian belum tercapai, bisa jadi Allah sedang membentuk kesabaran dan kedewasaan dalam diri kita. Tidak ada satu pun ketetapan-Nya yang sia-sia.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Belajar menerima takdir memang bukan perkara mudah. Namun, setiap kali hati mulai gelisah, ingatlah bahwa kita adalah hamba, sedangkan Allah adalah Rabb Yang Maha Bijaksana. Apa pun yang Dia pilih untuk kita selalu mengandung kebaikan, meskipun terkadang baru kita pahami setelah waktu berlalu.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang selalu berbaik sangka kepada-Nya, tetap bersabar dalam ujian, bersyukur saat diberi nikmat, dan yakin bahwa setiap ketetapan-Nya adalah bagian dari kasih sayang yang tidak pernah salah sasaran. [DW]
Sumber: Instagram dr.Zaidul Akbar





