ORANG yang bahagia adalah ketika Allah menjadikannya mencintai akhirat. Bahkan dia akan mengatakan, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih baik darinya.”
Tatkala seseorang mengurangi kecintaannya terhadap dunia dan kekayaan yang ada di dalamnya demi mengharap balasan yang lebih besar di akhirat nanti, maka Allah tidak akan menghilangkan baginya bagian dunia, dan tidak pula mengurangi kebahagiaannya di dalamnya.
Adapun orang yang sengsara adalah ketika setan menjadikannya cinta kepada dunia hingga dia berkata, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih baik daripada dunia ini.”
Maka Allah menjadikannya tenggelam dalam kegelapan nikmat dunia yang ia pilih, dan akhirnya dia akan mendapati kehidupannya setelah itu menjadi lebih sengsara.
Demikian dijelaskan oleh Umar bin Abdullah Al-Muqbil.
Begitu sebentarnya tinggal di dunia ini sehingga di akhirat kelak manusia hanya merasa tinggal beberapa hari saja di dunia. Sebab, perbandingan waktu akhirat dengan dunia begitu jauh. Satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun di dunia.
Maka sebenarnya dunia ini tidak ada apa-apanya dibanding akhirat. Jadikanlah dunia sebagai jembatan menuju kehidupan akhirat yang bahagia.
Allah kemudian berfirman bahwa mereka hanya hidup di dunia sebentar saja. Seandainya mereka memahami hakikat ini, niscaya mereka akan mengetahui betapa hinanya dunia.
Demikian dijelaskan oleh Imad Zuhair Hafidz.Bahkan sebenarnya kita tinggal di dunia ini hanya tiga hari: kemarin, hari ini, dan hari esok. Lalu mengapa kita menyia-nyiakan akhirat sebagai kampung penuh kesempurnaan?
Sumber: Ustadz Faisal Kunhi M.A.





