DALAM kehidupan sehari-hari, setiap Muslim pasti pernah merasakan beratnya menjalankan ketaatan. Bangun sebelum subuh untuk melaksanakan shalat, menahan diri dari perbuatan maksiat, menjaga lisan, menutup aurat, atau bersabar ketika menghadapi ujian bukanlah perkara yang mudah. Semua membutuhkan perjuangan dan kesungguhan hati.
Melalui salah satu unggahannya, Ustadz Oemar Mita menyampaikan sebuah pesan yang begitu mendalam, “Taat itu melelahkan tetapi tidak taat itu jauh lebih melelahkan. Hidup kita itu safar kepada Allah, maka yang paling penting bukan waktunya. Yang paling penting apa yang harus kita lakukan dan amal apa yang harus kita kerjakan.” Kalimat sederhana ini mengingatkan bahwa kehidupan di dunia hanyalah perjalanan menuju Allah SWT. Dalam perjalanan tersebut, yang menjadi bekal bukanlah lamanya usia, melainkan amal saleh yang berhasil kita kumpulkan.
Sering kali seseorang menganggap bahwa menjalankan perintah Allah akan membuat hidupnya terasa berat. Misalnya, ia merasa sulit menjaga shalat tepat waktu karena kesibukan pekerjaan. Ada pula yang merasa berat meninggalkan kebiasaan yang dilarang agama karena sudah menjadi bagian dari gaya hidupnya. Padahal, jika direnungkan lebih dalam, meninggalkan ketaatan justru menghadirkan beban yang lebih besar.
Baca Juga: Mengapa Allah Memberikan Ujian? Ini Hikmah yang Sering Terlupakan
Bagaimana Cara Beramal Cerdas di Waktu yang Terbatas?
Orang yang jauh dari Allah mungkin tampak menikmati hidupnya untuk sementara. Namun, hati yang kosong dari iman sering kali dipenuhi kegelisahan, rasa takut, dan penyesalan. Dosa yang terus dilakukan tanpa disadari akan menjadi beban batin yang menghilangkan ketenangan. Sebaliknya, meskipun menjalankan ketaatan memerlukan perjuangan, hasilnya adalah hati yang lebih damai karena merasa dekat dengan Sang Pencipta.
Islam mengajarkan bahwa dunia hanyalah tempat singgah. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an bahwa setiap jiwa akan kembali kepada-Nya. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak hanya sibuk menghitung berapa lama ia hidup, tetapi lebih fokus pada bagaimana ia mengisi kehidupan tersebut dengan amal yang bermanfaat.
Banyak orang memiliki target dunia yang sangat jelas, seperti mengejar pendidikan, karier, atau kesuksesan finansial. Semua itu tentu boleh diusahakan selama dilakukan dengan cara yang halal. Namun, jangan sampai seluruh waktu dan tenaga hanya dihabiskan untuk urusan dunia, sementara bekal menuju akhirat justru terabaikan.
Setiap hari sebenarnya Allah memberikan kesempatan baru untuk memperbanyak amal saleh. Shalat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, membantu sesama, bersedekah, berbakti kepada orang tua, menjaga amanah, hingga tersenyum kepada orang lain merupakan bentuk ibadah yang bernilai di sisi Allah apabila dilakukan dengan niat yang ikhlas.
Yang bermakna bukan harta dan followers kita tetapi yang bermakna adalah amalan kita yang akan kita bawa kepada-Nya. Mempersiapkan amalan shalih adalah kewajiban
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Mari jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk menambah bekal menuju kehidupan yang kekal. Sebab pada akhirnya, yang akan menemani kita di hadapan Allah bukanlah jabatan, harta, atau popularitas, melainkan amal saleh yang dikerjakan dengan penuh keikhlasan. Itulah bekal terbaik dalam safar panjang menuju perjumpaan dengan-Nya.
Sumber: Instagram Ustadz Oemar Mita





