PENTAS Seni dan Lomba Best Practice menjadi salah satu agenda utama dalam Jambore Dakwah Kemanusiaan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Tengah.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang unjuk kreativitas kader, tetapi juga media penguatan ideologi, syiar dakwah, serta berbagi praktik baik yang telah dijalankan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) se-Jawa Tengah.
Pentas seni diselenggarakan sebagai sarana tafakur ideologis untuk meneguhkan kembali komitmen kader ‘Aisyiyah Berkemajuan. Selain mempererat ukhuwah Islamiyah antar kader dari berbagai daerah, pentas seni juga menjadi media syiar dakwah melalui seni, budaya, dan nilai-nilai Islam yang anggun, sekaligus membangun semangat kolektif menuju ‘Aisyiyah Jawa Tengah sebagai ikon peradaban baru.
Sementara itu, Lomba Best Practice menghadirkan tiga kategori, yakni Video Qoryah Thoyyibah, Dakwah Tabligh Digital dan Dakwah Komunitas, serta Role Play.
Ketiga kategori tersebut dirancang untuk menampilkan praktik-praktik terbaik kader dalam menjawab berbagai tantangan dakwah di tengah masyarakat.
Lomba Video Qoryah Thoyyibah menjadi ajang bagi setiap PDA untuk mengaktualisasikan program kampung binaan di wilayahnya masing-masing.
Melalui karya video, peserta mempresentasikan praktik nyata pembangunan Qoryah Thoyyibah yang mendorong ketahanan pangan melalui pemanfaatan pekarangan dan gerakan lumbung hidup, menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan sadar gizi, serta memperkuat pemberdayaan perempuan secara spiritual, sosial, dan ekonomi.
Ketua Seksi Acara, Dra. Dwi Astuti, M.Pd., menjelaskan bahwa video Qoryah Thoyyibah merupakan bentuk aktualisasi gerakan dakwah yang telah dijalankan di daerah.
“Masing-masing Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) mempresentasikan kampung Qoryah Thoyyibah yang mereka bina sehingga dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain,” ujarnya, Ahad (28/6/2026) di Tawangmangu.
Pentas Seni dan Lomba Best Practice Jambore Perkuat Dakwah Kreatif Kader ‘Aisyiyah
Pada kategori Dakwah Tabligh Digital dan Dakwah Komunitas, peserta ditantang menghadirkan konten dakwah kreatif yang relevan dengan perkembangan teknologi informasi. Melalui media sosial, kader diharapkan mampu menyebarluaskan nilai-nilai Islam yang harmonis, religius, sehat, dan berkemajuan kepada masyarakat.
Menurut Dwi Astuti, perempuan berkemajuan tidak cukup hanya menjadi penikmat media sosial, tetapi juga harus mampu memproduksi konten yang mencerahkan dan menginspirasi.
Karena itu, lomba ini menjadi ruang untuk melahirkan karya-karya dakwah digital yang kreatif sekaligus berdampak.
Adapun kategori Role Play mengangkat berbagai persoalan yang dihadapi perempuan, anak, dan penyandang disabilitas yang berhadapan dengan hukum. Melalui simulasi kasus, peserta dilatih meningkatkan kepedulian, pemahaman, dan keterampilan dalam melakukan pendampingan, sekaligus menyampaikan pesan edukatif kepada masyarakat.
“Role Play menggambarkan kondisi perempuan yang termarginalkan dan berbagai persoalan hukum yang mereka hadapi. Kami ingin menampilkan bahwa di sinilah ‘Aisyiyah harus hadir mengambil peran ketika berada di tengah masyarakat,” jelas Dwi Astuti.
Melalui Pentas Seni dan Lomba Best Practice, Jambore Dakwah Kemanusiaan diharapkan tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga wahana berbagi inspirasi, memperkuat kapasitas kader, serta memperluas praktik-praktik dakwah yang inovatif dan berdampak bagi terwujudnya masyarakat yang berkemajuan.[ind]





